Hati terasa rindu pada kekasih hati di seberang lautan
Ketika hujan menangis di bumi
Terasa kuat ingin bertemu
Kekasih yang disana, terasakah yang sama.
Sedikit saja. pernahkah setitik rindu beterbangan mengitari hati.
Berkelana menyeberangi lautan.
Hingga tersampaikan padaku disini.
Kekasih, ketiks rindu aku akan selalu memutar rekaman di otakku tentangmu.
Karena rindu bagiku adalah sepi.
Dan kamu serupa bingar yang hapus sepi.
Kali ini rekaman itu terhenti di sela-sela hangat musim semi.
Musim semi akan selalu terkenang padaku sebagai musimnya pertemuan.
Singkat yang ternyata tak berujung pangkal.
Selain mencintai, dicintai, mungkin.
Sabtu, 12 November 2011
Jumat, 11 November 2011
Pedang bermata dua
Seorang samurai sedang kebingungan memilih pedang untuk perang yang tinggal sebentar lagi
Pedang lamanya sudah merengek minta pensiun
Dia memasuki kastilnya yang megah di tengah kota Osaka
Di dalamnya ada ruang berlapis kaca
Berderet pedang para leluhur
Semua pedang sakti
Ada pedang yang dilapis doa, pedang yang dilapis emas, pedang yang dilapis racun, hingga pedang bermata dua.
Sang samurai hanya perlu memilih satu untuk menebas musuh yang datang sesaat lagi
Sejenak samurai kebingungan
Pedang mana yang harus dipilihnya?
Ingin dia memilih semua karena kesaktian pedang-pedang itu
Lalu akan digunakannya kedua belah tangan kanan dan kirinya untuk membunuh musuh bebuyutan.
Sayang itu mustahil
Hanya tangan kanannya yang boleh memegang pedang karena yang kiri luka akibat perang masa lalu
Akhirnya jatuh pilihannya pada pedang bermata dua.
Sesaat hatinya ragu.
Pedang bermata dua.
Baikkah?
Bagaimana kalau malah jadi bumerang yang berbalik membunuhnya?
Ah tak mungkin.
Pedang bermata dua, dengan dua matanya yang sakti dan beracun pasti cepat membunuh musuh, dan lebih banyak.
Apalagi ini pedang leluhur, tak mungkin berkhianat pada tuannya.
Dicabutnya pedang bermata dua itu, dan berlarilah dia menuju medan perang
Namun sang samurai lupa, pedang bermata dua akan selamanya bermata dua.
Dan benarlah, si pedang melawan, berbalik menembus dada samurai malang
Samurai pun jatuh, darah mengalir deras dari dadanya
Dengan pedang bermata dua di tangan kanannya.
Pedang lamanya sudah merengek minta pensiun
Dia memasuki kastilnya yang megah di tengah kota Osaka
Di dalamnya ada ruang berlapis kaca
Berderet pedang para leluhur
Semua pedang sakti
Ada pedang yang dilapis doa, pedang yang dilapis emas, pedang yang dilapis racun, hingga pedang bermata dua.
Sang samurai hanya perlu memilih satu untuk menebas musuh yang datang sesaat lagi
Sejenak samurai kebingungan
Pedang mana yang harus dipilihnya?
Ingin dia memilih semua karena kesaktian pedang-pedang itu
Lalu akan digunakannya kedua belah tangan kanan dan kirinya untuk membunuh musuh bebuyutan.
Sayang itu mustahil
Hanya tangan kanannya yang boleh memegang pedang karena yang kiri luka akibat perang masa lalu
Akhirnya jatuh pilihannya pada pedang bermata dua.
Sesaat hatinya ragu.
Pedang bermata dua.
Baikkah?
Bagaimana kalau malah jadi bumerang yang berbalik membunuhnya?
Ah tak mungkin.
Pedang bermata dua, dengan dua matanya yang sakti dan beracun pasti cepat membunuh musuh, dan lebih banyak.
Apalagi ini pedang leluhur, tak mungkin berkhianat pada tuannya.
Dicabutnya pedang bermata dua itu, dan berlarilah dia menuju medan perang
Namun sang samurai lupa, pedang bermata dua akan selamanya bermata dua.
Dan benarlah, si pedang melawan, berbalik menembus dada samurai malang
Samurai pun jatuh, darah mengalir deras dari dadanya
Dengan pedang bermata dua di tangan kanannya.
Sabtu, 05 November 2011
mendadak ingin menulis (mungkin) puisi
Aku menandai aroma tubuhmu yang menemuiku tergesa
Di tengah hiruk pikuk Kyobashi
Pemuda, kembang api, kimono
Hari ini ada festival dan, ya, kita berjalan bersama
Aku menandai setiap gelak tawa dan sentuhan
Di balik takoyaki yang mengepul dan aku yang mengeluh kepanasan
Ya, dan gelak tawa itu yang akan selalu kuputar ulang ketika sepi
Aku merekam setiap kata di pinggiran sungai
Yang beradu dengan angin dan kilap lampu malam
Ketika berbagai kata terlontar
Aku menandai, merekam semua darimu, kamu
Aku menyimpan dan mengunci semua
Semua untukku, jika rindu terlalu bicara di akhir hari nanti
Saat tak ada
-mengingat 24 Juli Kyobashi-
Sudah berbulan lalu dan aku masih ingat dengan jelas rasanya
Ketika kuangkat telpon kamar dan kawat menyambungkannya ke ujung Osaka
Berkilo meter dari ujung pantai tempatku berada
Kalimat singkatku yang terjawab tak kalah singkat
Tapi ada senang di sini :)
-mengingat 22 Juni 2011 1608-
Hari masih terlalu pagi
Aku yang tak pernah bangun pagi
Kamu yang selalu terlambat kali ini tak biasa
Kamu yang masih selalu tergesa seperti biasa
Berjam deru kereta habis dengan kata
Seperti biasa aku yang terlalu luap senang bahkan hanya karena kata sederhanamu
Karena kata sederhana pun jadi tidak sederhana
Karena tak butuh luar biasa untuk bahagia denganmu
Aku yang mengagumi kesederhanaanmu
Kamu yang mendamba ketulusanku
Tapi tampaknya kagum dan damba bagi kita akan selalu bersembunyi di balik mahalnya harga
Atas diri
Atas sahabat
Di jalan filsafat yang penuh tentangmu, Osaka, agama, mimpi, janji, dan aku
Di jalan filsafat yang panjang seperti umur filsafat aku mengagumimu
Hingga sungai Kamo terbentang di hadapan wajah kekenyangan kita
Kamu berucap selamat tinggal
-mengingat 20 Agustus Hirakata-Sanjo Keihan dengan penambahan seperlunya agar (tampak) seperti puisi-
Ya, hari ini hari terakhirku
Besok aku akan mengakhiri 2 bulan mimpi musim panasku dan terbangun
Aku melewatkan hari terakhir di Kyoto, kota lama yang kucintai sejak kaki pertama menyentuhnya
Dan kamu dengan kebiasaan yang membuat luar biasa karena hanya kamu yang bisa dan punya
Hingga malam aku melangkah ke Mukaijima yang berkilo meter tak kalah jauhnya darimu
Hanya kukatakan besok akan pulang
Kalau kamu benar yang kukenal, dering telpon pasti tak lama lagi
Dan ternyata kamu masih tetap yang kukenal seperti dulu
Tenanglah dan kita akan segera bertemu lagi
Maka kamu dengan kebiasaanmu yang tak pernah membiarkan benci di hatiku
-mengingat 30 Agustus Mukaijima-
Ingin ternyata harus tertahan
Dalam diam yang diusungnya untukku
Seolah ingin menagih janji
Jangan khawatir karena mintalah apapun padaku dan aku akan memberimu semua
Jika dia yang minta
Sampai malam pertama dan terakhir duduk berhadap
Dalam sunyi kamar dan sekaleng bir
Aku telah melepaskan mahalnya label harga dan sahabat
Demi rasa
Dan ternyata harga dan sahabat baginya masih begitu tinggi
Hanya genggam tangan dan pasti semu yang selalu bisa dikatakannya
Pasti bertemu lagi, pasti
Sebelum aku keluar dan berlari
-mengingat 20 September 612-
Kali ini biarkan saja
Karena aku cuma ingin memutar kenangan sebelum kantuk melelapkanku
Ingatanku kembali ke satu setengah tahun lalu
Di tengah hujan bertemu pertama
Wajah lucu yang selalu membawa tawaku, tawa semua
Dulu,sekarang,selalu
Aku masih ingat jelas semua
-mengingat musim semi 2010-
Di tengah hiruk pikuk Kyobashi
Pemuda, kembang api, kimono
Hari ini ada festival dan, ya, kita berjalan bersama
Aku menandai setiap gelak tawa dan sentuhan
Di balik takoyaki yang mengepul dan aku yang mengeluh kepanasan
Ya, dan gelak tawa itu yang akan selalu kuputar ulang ketika sepi
Aku merekam setiap kata di pinggiran sungai
Yang beradu dengan angin dan kilap lampu malam
Ketika berbagai kata terlontar
Aku menandai, merekam semua darimu, kamu
Aku menyimpan dan mengunci semua
Semua untukku, jika rindu terlalu bicara di akhir hari nanti
Saat tak ada
-mengingat 24 Juli Kyobashi-
Sudah berbulan lalu dan aku masih ingat dengan jelas rasanya
Ketika kuangkat telpon kamar dan kawat menyambungkannya ke ujung Osaka
Berkilo meter dari ujung pantai tempatku berada
Kalimat singkatku yang terjawab tak kalah singkat
Tapi ada senang di sini :)
-mengingat 22 Juni 2011 1608-
Hari masih terlalu pagi
Aku yang tak pernah bangun pagi
Kamu yang selalu terlambat kali ini tak biasa
Kamu yang masih selalu tergesa seperti biasa
Berjam deru kereta habis dengan kata
Seperti biasa aku yang terlalu luap senang bahkan hanya karena kata sederhanamu
Karena kata sederhana pun jadi tidak sederhana
Karena tak butuh luar biasa untuk bahagia denganmu
Aku yang mengagumi kesederhanaanmu
Kamu yang mendamba ketulusanku
Tapi tampaknya kagum dan damba bagi kita akan selalu bersembunyi di balik mahalnya harga
Atas diri
Atas sahabat
Di jalan filsafat yang penuh tentangmu, Osaka, agama, mimpi, janji, dan aku
Di jalan filsafat yang panjang seperti umur filsafat aku mengagumimu
Hingga sungai Kamo terbentang di hadapan wajah kekenyangan kita
Kamu berucap selamat tinggal
-mengingat 20 Agustus Hirakata-Sanjo Keihan dengan penambahan seperlunya agar (tampak) seperti puisi-
Ya, hari ini hari terakhirku
Besok aku akan mengakhiri 2 bulan mimpi musim panasku dan terbangun
Aku melewatkan hari terakhir di Kyoto, kota lama yang kucintai sejak kaki pertama menyentuhnya
Dan kamu dengan kebiasaan yang membuat luar biasa karena hanya kamu yang bisa dan punya
Hingga malam aku melangkah ke Mukaijima yang berkilo meter tak kalah jauhnya darimu
Hanya kukatakan besok akan pulang
Kalau kamu benar yang kukenal, dering telpon pasti tak lama lagi
Dan ternyata kamu masih tetap yang kukenal seperti dulu
Tenanglah dan kita akan segera bertemu lagi
Maka kamu dengan kebiasaanmu yang tak pernah membiarkan benci di hatiku
-mengingat 30 Agustus Mukaijima-
Ingin ternyata harus tertahan
Dalam diam yang diusungnya untukku
Seolah ingin menagih janji
Jangan khawatir karena mintalah apapun padaku dan aku akan memberimu semua
Jika dia yang minta
Sampai malam pertama dan terakhir duduk berhadap
Dalam sunyi kamar dan sekaleng bir
Aku telah melepaskan mahalnya label harga dan sahabat
Demi rasa
Dan ternyata harga dan sahabat baginya masih begitu tinggi
Hanya genggam tangan dan pasti semu yang selalu bisa dikatakannya
Pasti bertemu lagi, pasti
Sebelum aku keluar dan berlari
-mengingat 20 September 612-
Kali ini biarkan saja
Karena aku cuma ingin memutar kenangan sebelum kantuk melelapkanku
Ingatanku kembali ke satu setengah tahun lalu
Di tengah hujan bertemu pertama
Wajah lucu yang selalu membawa tawaku, tawa semua
Dulu,sekarang,selalu
Aku masih ingat jelas semua
-mengingat musim semi 2010-
meditasi
Aku teringat ketika biasa melakukan meditasi sebelum pentas
Begitupun kulakukan untuk kenanganku
Aku duduk bersila dan memejamkan mataku
Perlahan aku merasa tubuhku sangat ringan hingga bahkan aku sanggup melayang
Kemudian kubuka kotak kaca di hadapanku
Disana kususun rapi kenanganku
Satu persatu
Sangat rapi
Lalu kukunci rapat-rapat kotak kaca itu
Dan kusimpan kuncinya di tempat yang paling tersembunyi
Kuletakkan kotak kaca itu di sudut
Tapi kenangan masih saja menembus kotak kaca dan lari kembali ke hati
-bagian terakhir kutambhakan karena begitulah kenyatannya-
忘れるのはそんなに簡単じゃないやろ~
Begitupun kulakukan untuk kenanganku
Aku duduk bersila dan memejamkan mataku
Perlahan aku merasa tubuhku sangat ringan hingga bahkan aku sanggup melayang
Kemudian kubuka kotak kaca di hadapanku
Disana kususun rapi kenanganku
Satu persatu
Sangat rapi
Lalu kukunci rapat-rapat kotak kaca itu
Dan kusimpan kuncinya di tempat yang paling tersembunyi
Kuletakkan kotak kaca itu di sudut
Tapi kenangan masih saja menembus kotak kaca dan lari kembali ke hati
-bagian terakhir kutambhakan karena begitulah kenyatannya-
忘れるのはそんなに簡単じゃないやろ~
Kamu
Kamu selalu hadir dalam mimpi dan jagaku
Selalu ada dalam langkah dan diamku
Muncul dalam senyum dan air mataku
Eksistensimu yang selalu terjaga
Entah siapa yang menjaga
Dalam setiap gerak hidupku
Lalu kemana aku harus lari bersembunyi?
Sampai kapan aku akan terus ketakutan bermimpi dan terjaga
Ragu melangkah dan enggan terdiam
Bosan tersenyum dan lelah menangis?
-tidak dimaksudkan untuk menyindir yang selalu hadir dalam mimpi-
Selalu ada dalam langkah dan diamku
Muncul dalam senyum dan air mataku
Eksistensimu yang selalu terjaga
Entah siapa yang menjaga
Dalam setiap gerak hidupku
Lalu kemana aku harus lari bersembunyi?
Sampai kapan aku akan terus ketakutan bermimpi dan terjaga
Ragu melangkah dan enggan terdiam
Bosan tersenyum dan lelah menangis?
-tidak dimaksudkan untuk menyindir yang selalu hadir dalam mimpi-
Aku dan laut
Kalau aku tua nanti
Aku ingin menghabiskan sisa umurku di sebuah rumah di tepi pantai
Rumah itu memiliki jendela yang lebar di barat sehingga senja bisa leluasa bertandang setiap sore.
Kalau aku keluar rumah
Aku ingin angin menerpa lembut kausku
Kadang aku akan bersepeda menyusuri pantai
Membawa serta anjing peliharaanku yang lucu
Sekai waktu aku turun dari sepeda dan memutuskan untuk duduk di kursi pantai
Aku memandang jauh ke cakrawala dan kulihat senja
Aku akan melihat ke laut lepas dan merasakan angin lewat di dekat rambutku
Aku juga kerap mendekati bibir pantai dan merasakan air laut menggelitiki kakiku
Di rumah di tepi pantai itu pula aku akan tinggal dengan suamiku yang walau telah beranjak senja dan berperut buncit namun tetap kucintai
Kami yang telah hidup bersama sejak lama sebelum rumah di tepi pantai itu ada
Setiap hari kami akan bercengkrama mesra tentang anak dan cucu kami yang tinggal di tengah kota
Membayangkan senyum indah mereka ketika mereka pulang ke kampung halaman mereka di tepi pantai ini
Mereka
Ya
Pantai, angin, senja, sepeda, anjing, suami, anak dan cucuku adalah harta berhargaku
Mereka semua menyimpan ceritaku
-teringat beberapa saat lalu melihat kakek bersepeda di Marble Beach-
Aku ingin menghabiskan sisa umurku di sebuah rumah di tepi pantai
Rumah itu memiliki jendela yang lebar di barat sehingga senja bisa leluasa bertandang setiap sore.
Kalau aku keluar rumah
Aku ingin angin menerpa lembut kausku
Kadang aku akan bersepeda menyusuri pantai
Membawa serta anjing peliharaanku yang lucu
Sekai waktu aku turun dari sepeda dan memutuskan untuk duduk di kursi pantai
Aku memandang jauh ke cakrawala dan kulihat senja
Aku akan melihat ke laut lepas dan merasakan angin lewat di dekat rambutku
Aku juga kerap mendekati bibir pantai dan merasakan air laut menggelitiki kakiku
Di rumah di tepi pantai itu pula aku akan tinggal dengan suamiku yang walau telah beranjak senja dan berperut buncit namun tetap kucintai
Kami yang telah hidup bersama sejak lama sebelum rumah di tepi pantai itu ada
Setiap hari kami akan bercengkrama mesra tentang anak dan cucu kami yang tinggal di tengah kota
Membayangkan senyum indah mereka ketika mereka pulang ke kampung halaman mereka di tepi pantai ini
Mereka
Ya
Pantai, angin, senja, sepeda, anjing, suami, anak dan cucuku adalah harta berhargaku
Mereka semua menyimpan ceritaku
-teringat beberapa saat lalu melihat kakek bersepeda di Marble Beach-
Jumat, 04 November 2011
cerita lama (30-31 Agustus 2011)
Selasa, 30 Agustus 2011: the last day in this country..menggelandang di Kyoto...hari ini nyampe pagi2 banget di Kyoto menuju tempat Salma yang lumayan juga dari Kyoto Eki..nama daerahnya Mukaijima dekat Uji sana..hehehe..terus tidur eh bangun2 sama Salma dan Rida dan Thia udah ada kare ayam...hehehe..selamat lebaran...terus jalan2 berkeliling Kyoto..bareng sampe Kyoto Eki terus aku misah..karena tujuan beda..pertama adalah Nijo jou..sayangnya Nijo jou tutup setiap hari Selasa..begooo..hehehe...terus akhirnya ke Heian Jingu...masuk kali ini..terus menuju ke Yasaka Jinja di Gion....masuk kali ini..kemaren waktu Gion matsuri kan nggak bisa masuk..terus ketemu Nanako di Gion Shijo untuk bersama2 Yukke ke Fushimi Inari..yatta....akhirnya ke Fushimi Inari juga walopun malam2 dan mepet2 banget waktunya..terus makan di Kyoto Eki..sebenernya hari ini ada satu orang yang ingin kutemui karena aku ingin ngasih dia buku Islam yang aku ambil di masjid Kobe kan berbahasa Jepang tuh..sayangnya dia sibuk kaliiii...biasa...jadi gak bisa ketemu..aku cuma sms kalo besok pulang dan ditelpon dong.....memang kenyataannya aku nggak bisa marah kalo sama dia....sasuga ano hito da!!!
Rabu, 31 Agustus 2011: Pagi2 aku udah menuju Kyoto Eki karena aku harus segera ke sentaa untuk ambil koper...udah berangkat pagi tetep aja mepet sampe di Rinkuu Town..setelah ambil koper langsung cabut ke KIX...sedih meninggalkan Kyoto...sedih meninggalkan sentaa...sedih meninggalkan Jepang..di KIX udah ditungguin sama Ikegami san sekeluarga...diantar sampe masuk bandara....terus jam 11 aku take off meninggalkan Jepang..terima kasih ya Jepang sudah memberiku pengalaman yang sangat berharga selama dua bulan ini...suatu saat aku pasti, pasti akan kembali....dalam musim yang lain..dalam purnama yang lain.....aku pasti akan kembali..dan aku nangis dong di pesawat...kaeritakunai, kataku...Kyoto ni sumitai...hehehehe... :p
Rabu, 31 Agustus 2011: Pagi2 aku udah menuju Kyoto Eki karena aku harus segera ke sentaa untuk ambil koper...udah berangkat pagi tetep aja mepet sampe di Rinkuu Town..setelah ambil koper langsung cabut ke KIX...sedih meninggalkan Kyoto...sedih meninggalkan sentaa...sedih meninggalkan Jepang..di KIX udah ditungguin sama Ikegami san sekeluarga...diantar sampe masuk bandara....terus jam 11 aku take off meninggalkan Jepang..terima kasih ya Jepang sudah memberiku pengalaman yang sangat berharga selama dua bulan ini...suatu saat aku pasti, pasti akan kembali....dalam musim yang lain..dalam purnama yang lain.....aku pasti akan kembali..dan aku nangis dong di pesawat...kaeritakunai, kataku...Kyoto ni sumitai...hehehehe... :p
Langganan:
Postingan (Atom)