Aku menandai aroma tubuhmu yang menemuiku tergesa
Di tengah hiruk pikuk Kyobashi
Pemuda, kembang api, kimono
Hari ini ada festival dan, ya, kita berjalan bersama
Aku menandai setiap gelak tawa dan sentuhan
Di balik takoyaki yang mengepul dan aku yang mengeluh kepanasan
Ya, dan gelak tawa itu yang akan selalu kuputar ulang ketika sepi
Aku merekam setiap kata di pinggiran sungai
Yang beradu dengan angin dan kilap lampu malam
Ketika berbagai kata terlontar
Aku menandai, merekam semua darimu, kamu
Aku menyimpan dan mengunci semua
Semua untukku, jika rindu terlalu bicara di akhir hari nanti
Saat tak ada
-mengingat 24 Juli Kyobashi-
Sudah berbulan lalu dan aku masih ingat dengan jelas rasanya
Ketika kuangkat telpon kamar dan kawat menyambungkannya ke ujung Osaka
Berkilo meter dari ujung pantai tempatku berada
Kalimat singkatku yang terjawab tak kalah singkat
Tapi ada senang di sini :)
-mengingat 22 Juni 2011 1608-
Hari masih terlalu pagi
Aku yang tak pernah bangun pagi
Kamu yang selalu terlambat kali ini tak biasa
Kamu yang masih selalu tergesa seperti biasa
Berjam deru kereta habis dengan kata
Seperti biasa aku yang terlalu luap senang bahkan hanya karena kata sederhanamu
Karena kata sederhana pun jadi tidak sederhana
Karena tak butuh luar biasa untuk bahagia denganmu
Aku yang mengagumi kesederhanaanmu
Kamu yang mendamba ketulusanku
Tapi tampaknya kagum dan damba bagi kita akan selalu bersembunyi di balik mahalnya harga
Atas diri
Atas sahabat
Di jalan filsafat yang penuh tentangmu, Osaka, agama, mimpi, janji, dan aku
Di jalan filsafat yang panjang seperti umur filsafat aku mengagumimu
Hingga sungai Kamo terbentang di hadapan wajah kekenyangan kita
Kamu berucap selamat tinggal
-mengingat 20 Agustus Hirakata-Sanjo Keihan dengan penambahan seperlunya agar (tampak) seperti puisi-
Ya, hari ini hari terakhirku
Besok aku akan mengakhiri 2 bulan mimpi musim panasku dan terbangun
Aku melewatkan hari terakhir di Kyoto, kota lama yang kucintai sejak kaki pertama menyentuhnya
Dan kamu dengan kebiasaan yang membuat luar biasa karena hanya kamu yang bisa dan punya
Hingga malam aku melangkah ke Mukaijima yang berkilo meter tak kalah jauhnya darimu
Hanya kukatakan besok akan pulang
Kalau kamu benar yang kukenal, dering telpon pasti tak lama lagi
Dan ternyata kamu masih tetap yang kukenal seperti dulu
Tenanglah dan kita akan segera bertemu lagi
Maka kamu dengan kebiasaanmu yang tak pernah membiarkan benci di hatiku
-mengingat 30 Agustus Mukaijima-
Ingin ternyata harus tertahan
Dalam diam yang diusungnya untukku
Seolah ingin menagih janji
Jangan khawatir karena mintalah apapun padaku dan aku akan memberimu semua
Jika dia yang minta
Sampai malam pertama dan terakhir duduk berhadap
Dalam sunyi kamar dan sekaleng bir
Aku telah melepaskan mahalnya label harga dan sahabat
Demi rasa
Dan ternyata harga dan sahabat baginya masih begitu tinggi
Hanya genggam tangan dan pasti semu yang selalu bisa dikatakannya
Pasti bertemu lagi, pasti
Sebelum aku keluar dan berlari
-mengingat 20 September 612-
Kali ini biarkan saja
Karena aku cuma ingin memutar kenangan sebelum kantuk melelapkanku
Ingatanku kembali ke satu setengah tahun lalu
Di tengah hujan bertemu pertama
Wajah lucu yang selalu membawa tawaku, tawa semua
Dulu,sekarang,selalu
Aku masih ingat jelas semua
-mengingat musim semi 2010-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar