Aku pergi pagi-pagi menuju ladang kerjaku.
Hari ini aku harus membanting tulang dari pagi hingga senja.
Aku tak punya motor dan mobil sehingga harus naik kendaraan umum.
Tak terhitung berapa kali aku harus naik turun.
Satu kali pernah aku menumpang kendaraan umum yang telah kunanti satu jam lebih hingga aku terlambat dan hampir dipecat majikan.
Satu kali lagi aku berada di atas kendaraan reyot tinggal rangka.
Aku juga pernah berada dalam kendaraan yang serupa sauna berjalan dengan sangit keringat tumpukan manusia.
Pernah aku berada di dalam kendaraan dengan pengemudi berlagak Fernando Alonso di Sirkuit Sepang, Malaysia.
Belum bergulat dengan macet, bising, asap yang seperti tinta cumi-cumi, kuris bolong, kena tempias air hujan, dan tangan jahil.
Satu kali bahkan aku harus menumpangi gerbong besi menuju ladang kerjaku yang ada di kota sebelah.
Di gerbong bekas Jepang yang bahkan belum dihapus tulisan kin'en itu aku berdesakan.
Tak jarang terjepit di tengah, dekat pintu, kadang-kadang bersembunyi di atap.
Was-was terjerat kabel yang sewaktu-waktu bisa melilit.
Itu belum kalau ditunda atau terlambat untuk sebab entah.
Jangankan untuk merelakan kursi kepada orang tua atau ibu hamil, untuk meletakkan pantat sendiri pun kebingungan.
Sedang berdiri bisa membuat terjerembab.
Sejenak aku teringat ketika aku berkelana ke Jepang di musim panas yang menyengat.
Aku teringat pesan seorang guru.
Never be late 'cause the Shinkansen will never wait for you, even just a second.
90 kilometer Kyoto Osaka hanya dalam 15 menit bahkan kurang.
Itulah mimpi manusia yang kemudian jadi nyata.
Berlari secepat cahaya.
Tanpa macet, telat, tukang jual air minum palsu, apalagi peminta kecil.
Aku tak perlu berjibaku dengan mereka yang mau keluar atau naik.
Ketika mereka yang cacat dan tua adalah istimewa.
Ketika bisa istirahat memejamkan mata sejenak di dalam, tanpa takut handphone atau laptop lenyap.
Kemudian kenyataan melemparkanku kembali ke kendaraan reyot tinggal rangka yang dijejali puluhan manusia.
Aku sadar inilah kami.
Kami yang terlalu bangga hanya membeli barang bekas tanpa mengolahnya lagi, sehingga jadi bahan tertawaan pemilik aslinya.
Kami yang sebenarnya terlalu aku hingga lebih suka naik motor dan mobil, hingga membuat bis dan kereta jadi anak tiri.
Kami yang bangga dengan motor dan mobil bikinan Jepang yang bahkan di Jepang sudah tidak laku.
Kami yang mampu mencicil motor gratis hanya bermodal fotokopi katepe, hingga membuat trotoar alih fungsi dan pesepeda kehilangan jati diri.
Kami yang punya orang-orang hebat yang pandai bicara tapi tak mampu bikinkan bis dan kereta yang nyaman bagi kami, hingga kami lebih nyaman dengan kredit ala katepe
Kami yang harus selalu mengumpat karena tua di jalan tanpa tahu umpatan itu ditujukan ke siapa, tanpa tahu umpatan itu mental ke kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar