Sabtu, 12 November 2011

Moksa

Di luar jendelaku rintik hujan bagai larik puisi.
Turun satu-satu, beranjak menuju akhir dan selanjutnya wangi tanah yang segar akan tercium.
Kadang diselingi angin kecil yang lembut menyelusup celah jendelaku.
Aku sedang berbaring dengan selimut membungkus tubuh.
Menunggu hujan yang segera akan berganti pelangi seperti janji pepatah.
Di balik hujan, aku tahu ada yang tidak mungkin sirna.
Mungkin itu rindu.
Rinduku seperti hujan setahun di lahan tandus.
Sangat mendamba bersentuhan dengan tanah.
Ingin selamanya bersatu dengan tanah, moksa.
Aku pun ingin selamanya bersatu denganmu, moksa menjadi cinta.
Mungkinkah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar