Sabtu, 12 November 2011

Tatap mata

Aku menghargai setiap pertemuan kita.
Pertemuan kita yang blue moon, sangat jarang sekali.
Seperti sore mendung itu.
Aku tidak menduga bahwa sore sekelabu itu akan jadi cerah di hati setelah bertemu denganmu.
Ketika aku melangkah menuju entah.
Sesaat kemudian mata tergerak menoleh.
Entah apa yang menggerakkannya.
Siapa, kukira? yang menatapku dengan tatap mata ganjil.
Aku lalu sadar.
Itu kamu yang telah memotong rambut panjang indahmu yang selalu membuatku iri.
Aku ingat tata mata yang selalu ganjil itu.
Hanya kamu yang punya tatap mata seganjil itu.
Dan hanya kamu yang selalu menatapku dengan seganjil itu.
Aku menoleh dan kamu sudah berlalu bersama kelabu.
Tampak bayangmu dari belakang, ya, itulah kamu, yang selalu kuamati langkahmu dalam isak.
Sesal, karena yang bisa kunikmati hanya bayangan dan langkah menjauhmu
Kemudian dalam langkah pulangmu setelah kunjunganmu ke rumah Tuhan kita bertemu kembali.
Rumah Tuhan, ya
Ternyata kamu masih ingat langkah pulang ke rumah Tuhan
Aku ucap syukur dalam hati pada Tuhanku.
Kamu masih ingat langkah pulang ketika aku yang sekarang tersesat tak tahu harus pulang kemana.
Ketika itu mata kita ternyata sempat bertemu kembali.
Masih dengan tatap mata ganjil yang tadi.
Tatap mata yang sungguh tidak bisa terlupakan.
Tolong hentikan tatap mata itu.
Tak bisakah kamu ganti tatap mata ganjil dan dingin itu dengan tatap mata seperti musim semi yang kabarnya hangat?
Tolonglah. Jangan menambah mendung yang sudah mendung.
Aku tak pernah merasakan hangat musim semi.
Bolehkah aku merasakannya dalam tatap matamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar