Kamis, 22 Desember 2011

Kangen

Di antara kepul asap malam ini
Aku sedang menghadapi puluhan huruf yang menyesakkan mata, memusingkan kepala
Tiba-tiba mata tertambat pada sebuah kata hingga akibatkan rindu
Aku rindu
Pikirku melayang pada sebuah tempat, sebuah nama, sebuah benda, dan berbagai cerita
Aku rindu suatu pagi ketika matahari musim panas masih malu-malu muncul di balik awan pekat
Aku mengayuh sepeda kesayangan
Melewati pagi yang masih berkabut di balik laut
Menyeberangi jalan, menerobos dua kali lampu merah, berkejaran dengan waktu
Tetap saja, di negeri asing yang jauh, menerobos dan ngebut kubawa-bawa tanpa malu barang sedikit
Tujuanku sebuah tempat, yang akan mengawali ingin
Stasiun rinkuu town
Inginku bertemu denganmu
Tetap saja aku ketinggalan kereta pagi
Aku duduk menunggu di peron, demi kereta berikut yang datang tak lama
Itu sudah cukup membuatku gelisah dan merasa bersalah padamu, pada keterlambatanku
Kamu akan menungguku di tengah sesak manusia sampai pukul entah
Aku membentangkan sebuah peta lebar
Hanya ada puluhan jalur kereta disana
Mencari jalan yang akan mengantarku dan mu ke berbagai ingin
Kamu
Aku, kamu, stasiun, kereta, perta
Kita berlima berkongsi menjadi sahabat karib
Aku tak bisa tanpa kereta dan stasiun
Mereka berdua selalu menanti hadirku
Setia mewujud apapun inginku
Sama juga peta yang seperti kedua kakiku, penuntun langkahku
Aku tak punya peta, aku tak punya kaki
Hingga semua menuntunku menujumu
Bahwa kita berlima sebenarnya satu, aku baru sadar setelah lama
Katanya perempuan sulit membaca peta
Bahwa peta yang katanya sulit itu pada akhirnya mampu kutaklukkan
Tentang betapa panik sahabatku ketika tersesat dan pergi tanpaku, tanpa peta
Tentang betapa paniknya aku saat lupa membawa peta, seolah melepaskan kedua kaki dan lupa memasangnya kembali
Tentang sahabatku yang berkata, dia tak perlu bawa peta, karena dia sudah membawaku serta
Aku rindu membaca peta dan stasiun rinkuu town
Aku rindu menumpang kereta yang betapa dalam kantuk aku masih mengingat jalan pulang
Keika dalam lelap aku sadar harus turun kereta
Aku rindu kereta yang menemani pagi berkabut aku dan kamu
Mengawal siang kita yang benderang. Mengakhiri langkah ketika jingga tiba di angkasa
Hingga kereta yang mengantarkku kembali memelukmu dalam kelam malam
Aku,kamu,stasiun,kereta,peta
Ternyata berada dalam satu garis lurus
Satu mata rantai perjalanan hati
Saling membutuhkan
Terima kasih kepada semuanya untuk menjadi bagian dari rantai perjalananku
Terima kasih stasiun rinkuu town untuk menjadi langkah awalku melihat dunia indah disana, melihatmu
Terima kasih kereta karena mimpi mewujud tak hanya lagi-lagi jadi mimpi
Terima kasih peta untuk menjadi teman, bahkan menjadi aku sendiri
Karena kubayangkan peta dan aku, kami simpul kerumitan, yang jalan pembebasannya hanya ada dalam diri kami sendiri
Tak lupa terima kasih untuk kamu, untuk menjadi kamu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar