Kepada hujan
Yang turun satu-satu, perlahan menderas di sekeliling payungku
Kutitipkan sebaris rindu
Kepada hujan
Yang mengenai ujung hidungku, membasahi rumput di bawah kakiku
Kuucapkan kalimat doa sore hari
Kepada hujan
Yang enggan pergi, bertahan disini di hati
Kutegakkan sebaris langkah kaki
Kepada hujan
Yang menemani awan gelap di sudut langit barat
Kubentuk serangkai harap bersama dengan gelap
Karena hujan
Yang seperti tangis semesta
Kulepaskan air mata yang samar ketika hujan
Kepada hujan
Yang menutup musim bunga, yang membuka sengat matahari
Kuserahkan perasaan hilang dan harap yang masih sama
Ketika hujan
Yang selalu berada di antara, hujan sesaat
Kubayangkan aku berjalan di bawah payung baru bergambar bintang, bersamanya
Kadang kala hujan
Yang bersama deru dan asap mobil di seberang jalan
Membawa kembali kepada kenangan baru, menutup rapat kenangan lama
Karena hujan
Di bulan Juni, yang selalu mengingatkan pada hati
Masih punya rasa
Kepada hujan
Tolong disampaikan
Lewat air mata, angin, juga awan gelap
(Tokyo, 5 Juni 2014, hari Kamis)
sore hari yang hujan di Tokyo
Kamis, 05 Juni 2014
Rindu Kepada Malam
Aku berharap menemukanmu
Di sela-sela perasaanku
Sejauh aku mendengar suaramu
Di bawah terik matahari Sabtu
Sejauh kurasakan keberadaanmu
Seperti aku melihat sosokmu
Yang berada di dekatku
Seperti samar aku, merasakan senyummu
Rasanya aku mengenali langkahmu dari kejauhan
Dan benar saja
Itu suara langkah kaki, setengah berlari
Perlahan menjauh, masuk, hingga tak terlihat lagi
Dan aku malam ini menunggu
Untuk berharap menemukanmu
Dalam nama, wacana, berita
Kamu ada disana, tapi tak ada juga
Dan aku tetap berharap menemukanmu, besok dan besok hari
Agar aku percaya kebetulan yang lewat di sela lambaian tanganmu
Datanglah lagi esok hari, karena aku ingin bertemu
Aku ingin menjemput bahagia dari sekedar sapa
Sekecil salam, sebesar bahagia
Dan akan kumaknai bahagia sebagai rindu
Bahagia yang karena perasaan rindu
Rindu akan perasaan bahagia
Selamat malam, selamat memeluk rindu bersama malammu
Besok masih ada..
(Tokyo, 31 Mei 2014, Sabtu 01:47 AM)
Di sela-sela perasaanku
Sejauh aku mendengar suaramu
Di bawah terik matahari Sabtu
Sejauh kurasakan keberadaanmu
Seperti aku melihat sosokmu
Yang berada di dekatku
Seperti samar aku, merasakan senyummu
Rasanya aku mengenali langkahmu dari kejauhan
Dan benar saja
Itu suara langkah kaki, setengah berlari
Perlahan menjauh, masuk, hingga tak terlihat lagi
Dan aku malam ini menunggu
Untuk berharap menemukanmu
Dalam nama, wacana, berita
Kamu ada disana, tapi tak ada juga
Dan aku tetap berharap menemukanmu, besok dan besok hari
Agar aku percaya kebetulan yang lewat di sela lambaian tanganmu
Datanglah lagi esok hari, karena aku ingin bertemu
Aku ingin menjemput bahagia dari sekedar sapa
Sekecil salam, sebesar bahagia
Dan akan kumaknai bahagia sebagai rindu
Bahagia yang karena perasaan rindu
Rindu akan perasaan bahagia
Selamat malam, selamat memeluk rindu bersama malammu
Besok masih ada..
(Tokyo, 31 Mei 2014, Sabtu 01:47 AM)
Minggu, 18 Mei 2014
Rindu
Dari kejauhan kulihat seseorang berlari
Mengejar apa dia?
Padahal ini tengah malam dingin dan pekat
Apa yang dilakukannya?
Ah, aku pun ingin ikut berlari bersamanya
Aku ingin mengejar rindu
Aku rindu sudut kota kita yang mungil dan hangat
Kota kita yang tenang dan sunyi
Di sanalah pusat dunia mini kita
Sekarang ini di kanan dan di kiri penuh cahaya
Bersaing dengan bulan yang makin samar tinggal separuh
Aku rindu pada kenangan manis kita di kota itu
Aku juga rindu padamu hingga seolah kulihat kamu ada di kejauhan, tersenyum manis dan melambai padaku
Sekilas kenangan manismu mendekatkan suka dan membuatku lupa duka pernah ada
Apakah mungkin kamu datang kesini untuk berbagi rindu denganku, menyeberangi jembatan pelangi* hingga langit?
Rinduku begitu penuh hingga hampir tumpah berserakan membasahi tanah
Tak pernah kutemukan obat bagi rinduku
Tak juga ada kendaraan bagi rinduku yang rindu jalan pulang
Berulang kali kuciptakan penawar dan kendaraan penyambung rindu
Tak pernah ada dan tak pernah bisa
Ah, hampir aku menyerah dan putus asa, "Apakah rindu memang benar tak perlu obat penawar?"
"Mungkin rindu hanya perlu perasa," gumammu dari sudut supermarket suatu kali. Tanganmu memegang sebotol penyedap rasa yang biasa kupakai untuk memasak
Ah, ya.. Kamu benar.. Mungkin rindu hanya perlu perasa, yang biasa kita beli di supermarket langganan
Tolong belilah! Yang banyak! Di sana dijual murah! Sumpah!
Mungkin dengan itu rinduku akan awet, juga rindumu, hingga aku kembali
Tokyo, 19 Mei 2014
*Rainbow Bridge di Odaiba
Mengejar apa dia?
Padahal ini tengah malam dingin dan pekat
Apa yang dilakukannya?
Ah, aku pun ingin ikut berlari bersamanya
Aku ingin mengejar rindu
Aku rindu sudut kota kita yang mungil dan hangat
Kota kita yang tenang dan sunyi
Di sanalah pusat dunia mini kita
Sekarang ini di kanan dan di kiri penuh cahaya
Bersaing dengan bulan yang makin samar tinggal separuh
Aku rindu pada kenangan manis kita di kota itu
Aku juga rindu padamu hingga seolah kulihat kamu ada di kejauhan, tersenyum manis dan melambai padaku
Sekilas kenangan manismu mendekatkan suka dan membuatku lupa duka pernah ada
Apakah mungkin kamu datang kesini untuk berbagi rindu denganku, menyeberangi jembatan pelangi* hingga langit?
Rinduku begitu penuh hingga hampir tumpah berserakan membasahi tanah
Tak pernah kutemukan obat bagi rinduku
Tak juga ada kendaraan bagi rinduku yang rindu jalan pulang
Berulang kali kuciptakan penawar dan kendaraan penyambung rindu
Tak pernah ada dan tak pernah bisa
Ah, hampir aku menyerah dan putus asa, "Apakah rindu memang benar tak perlu obat penawar?"
"Mungkin rindu hanya perlu perasa," gumammu dari sudut supermarket suatu kali. Tanganmu memegang sebotol penyedap rasa yang biasa kupakai untuk memasak
Ah, ya.. Kamu benar.. Mungkin rindu hanya perlu perasa, yang biasa kita beli di supermarket langganan
Tolong belilah! Yang banyak! Di sana dijual murah! Sumpah!
Mungkin dengan itu rinduku akan awet, juga rindumu, hingga aku kembali
Tokyo, 19 Mei 2014
*Rainbow Bridge di Odaiba
Sabtu, 19 April 2014
Japan Life 2014
Sudah 17 hari sejak kedatangan kembali di Jepang (2 April 2014). Rasanya macam-macam, antara senang karena kembali lagi kesini, sedih karena meninggalkan Jogja, keluarga, dan teman-teman yang kucintai.
Tapi karena sudah berada di sini, tentu konsekuensi yang harus dijalani, beban yang harus ditanggung tidak sedikit, melainkan banyak. Karena kedatangan kesini, yang kali ini, bukan untuk sekedar main-main, melainkan belajar.
Aku membawa posisi yang belum aman di sini, karena masih ada 2 tahun untuk menentukan posisi yang aman. Tapi sebagaimana kata orang-orang yang kucintai, aku harus senang menjalani proses belajarku, juga proses main-mainku.
Belajar akan membawa kepada sebuah pemahaman, akan suatu hal yang belum kuketahui, akan suatu hal yang hanya setengah kuketahui, hingga ke hal-hal yang sudah kuketahui.
Bermain akan membawa kepada sebuah nostalgia, akan tempat-tempat yang pernah kudatangi, juga pengalaman, dan kesan, akan tempat-tempat yang belum pernah kudatangi.
Rasanya kedatanganku kesini, yang kali ini, tidak penuh dengan tanganku sendiri, tapi dengan tangan banyak orang yang telah membantu, dengan tangan Tuhan, dengan berjuta kebetulan, yang akhirnya membawaku sampai ke Tokyo.
Walaupun Tokyo yang kudatangi adalah Tokyo yang ada di ujung Tokyo, walaupun harus bersusah payah untuk sekedar menghirup hawa kota yang menyenangkan, tapi berada di sini adalah suatu kebahagiaan dan kebetulan yang sayang kalau dilewatkan hanya dengan bertanya dan terus berpikir, tanpa merasakan dan menyimpannya.
Caraku menyimpan bahagia dan proses adalah akan kusimpan di mata, kemudian kusimpan di hati. Sebuah proses penyimpanan yang aku yakin tidak akan ada gantinya. Tapi jika bahagia dan proses itu tidak direkam dalam tulisan, maupun dalam gambar, rasanya bahagia dan proses itu tidak akan seratus persen sempurna. Rasanya tidak akan menjadi kenangan yang bisa kubongkar lagi suatu hari nanti.
Jadi akan kusimpan gambar di sini, agar dia bisa menjadi hal yang kukenang nanti. :)
Tapi karena sudah berada di sini, tentu konsekuensi yang harus dijalani, beban yang harus ditanggung tidak sedikit, melainkan banyak. Karena kedatangan kesini, yang kali ini, bukan untuk sekedar main-main, melainkan belajar.
Aku membawa posisi yang belum aman di sini, karena masih ada 2 tahun untuk menentukan posisi yang aman. Tapi sebagaimana kata orang-orang yang kucintai, aku harus senang menjalani proses belajarku, juga proses main-mainku.
Belajar akan membawa kepada sebuah pemahaman, akan suatu hal yang belum kuketahui, akan suatu hal yang hanya setengah kuketahui, hingga ke hal-hal yang sudah kuketahui.
Bermain akan membawa kepada sebuah nostalgia, akan tempat-tempat yang pernah kudatangi, juga pengalaman, dan kesan, akan tempat-tempat yang belum pernah kudatangi.
Rasanya kedatanganku kesini, yang kali ini, tidak penuh dengan tanganku sendiri, tapi dengan tangan banyak orang yang telah membantu, dengan tangan Tuhan, dengan berjuta kebetulan, yang akhirnya membawaku sampai ke Tokyo.
Walaupun Tokyo yang kudatangi adalah Tokyo yang ada di ujung Tokyo, walaupun harus bersusah payah untuk sekedar menghirup hawa kota yang menyenangkan, tapi berada di sini adalah suatu kebahagiaan dan kebetulan yang sayang kalau dilewatkan hanya dengan bertanya dan terus berpikir, tanpa merasakan dan menyimpannya.
Caraku menyimpan bahagia dan proses adalah akan kusimpan di mata, kemudian kusimpan di hati. Sebuah proses penyimpanan yang aku yakin tidak akan ada gantinya. Tapi jika bahagia dan proses itu tidak direkam dalam tulisan, maupun dalam gambar, rasanya bahagia dan proses itu tidak akan seratus persen sempurna. Rasanya tidak akan menjadi kenangan yang bisa kubongkar lagi suatu hari nanti.
Jadi akan kusimpan gambar di sini, agar dia bisa menjadi hal yang kukenang nanti. :)
![]() |
| a bar in Shimokitazawa, near Shibuya |
![]() |
| spaghetti at Saizeriya |
![]() |
| the famous Hachiko statue at Shibuya |
![]() |
| the famous Shibuya *look at Ohchan* ^^ |
![]() |
| the famous Takeshita Street, at Harajuku |
![]() |
| Meiji Jingu Shrine, near Harajuku |
![]() |
| Tokyo Tower |
![]() |
| almost Children's Day (Kodomo no Hi, every May 5) |
![]() |
| Tokyo from 250 m, at Tokyo Tower |
Sabtu, 08 Februari 2014
Untuk J yang kucintai
Untuk J
Hai J, maaf ya, sebenarnya aku mau kirim surat untuk kamu kemarin malam. Tapi kemarin malam aku bahkan tidak membuka komputerku sama sekali, karena galau ini dan itu. Jadi anggap saja ini surat yang tertunda ya, J. Tapi mending kirim kan daripada nggak sama sekali. :)
J, nggak kerasa ya, sudah 8 tahun aku ada disini, bersama kamu. 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar, J. Itu waktu yang bisa kita bilang cukup lama. Awalnya aku nggak suka dan ragu dengan kamu, tapi ternyata 8 tahun berjalan dan aku sudah bisa dikatakan nggak bisa hidup tanpa kamu, dan nggak bisa meninggalkan kamu.
J, sudah terlalu banyak cerita dan pengalaman dan kenangan antara aku dan kamu. Setiap sudutmu adalah hal indah buatku. Aku merasa bersyukur dan bahagia bisa mengenalmu, J. Sejak tahun 2006 hingga 2014, aku bahkan tidak bisa menguraikan semuanya satu persatu. Kenangan baik dan kenangan buruk, ah semuanya akan kuanggap sebagai kenangan baik yang menjadikan pelajaran buatku, J.
J, sebentar lagi aku harus pergi meninggalkan kamu, dan entah sampai kapan. Dan entah kapan aku akan bisa kembali menemuimu. Aku sangat ingin berada disini bersamamu tanpa pernah pergi meninggalkanmu, apalagi aku tak pernah meninggalkanmu dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi kali ini aku harus pergi, J. Demi entah apa yang kukejar disana, anggap saja masa depan.
J, anggap saja aku pergi tidak akan lama. Karena aku pasti akan kembali menemuimu, J. Seperti kalimat perpisahan dalam Ada Apa Dengan Cinta yang selalu kuingat:
Aku pasti akan kembali, dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku. Karena aku ingin kamu, itu saja
J, aku berjanji akan kembali secepatnya, setelah aku mendapatkan semuanya disana. Selama aku pergi nanti, janganlah berubah, karena kamu akan tetap menjadi J yang kucinta. Ketika aku kembali nanti, ketika aku telah mendapatkan semua yang (mungkin) kuinginkan, tetaplah menjadi J yang kucinta. Aku akan selalu membawa kenangan tentangmu dalam hatiku, J.
Sekarang, sebelum aku meninggalkanmu awal bulan depan nanti, J, ijinkanlah aku bersamamu, menikmati seluruhmu, sebentar saja. Akan kukenang semuanya, akan kusimpan semuanya, akan kuingat semuanya, dengan mata, dengan otak, dengan hati.
Salam Cinta,
Di
Hai J, maaf ya, sebenarnya aku mau kirim surat untuk kamu kemarin malam. Tapi kemarin malam aku bahkan tidak membuka komputerku sama sekali, karena galau ini dan itu. Jadi anggap saja ini surat yang tertunda ya, J. Tapi mending kirim kan daripada nggak sama sekali. :)
J, nggak kerasa ya, sudah 8 tahun aku ada disini, bersama kamu. 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar, J. Itu waktu yang bisa kita bilang cukup lama. Awalnya aku nggak suka dan ragu dengan kamu, tapi ternyata 8 tahun berjalan dan aku sudah bisa dikatakan nggak bisa hidup tanpa kamu, dan nggak bisa meninggalkan kamu.
J, sudah terlalu banyak cerita dan pengalaman dan kenangan antara aku dan kamu. Setiap sudutmu adalah hal indah buatku. Aku merasa bersyukur dan bahagia bisa mengenalmu, J. Sejak tahun 2006 hingga 2014, aku bahkan tidak bisa menguraikan semuanya satu persatu. Kenangan baik dan kenangan buruk, ah semuanya akan kuanggap sebagai kenangan baik yang menjadikan pelajaran buatku, J.
J, sebentar lagi aku harus pergi meninggalkan kamu, dan entah sampai kapan. Dan entah kapan aku akan bisa kembali menemuimu. Aku sangat ingin berada disini bersamamu tanpa pernah pergi meninggalkanmu, apalagi aku tak pernah meninggalkanmu dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi kali ini aku harus pergi, J. Demi entah apa yang kukejar disana, anggap saja masa depan.
J, anggap saja aku pergi tidak akan lama. Karena aku pasti akan kembali menemuimu, J. Seperti kalimat perpisahan dalam Ada Apa Dengan Cinta yang selalu kuingat:
Aku pasti akan kembali, dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku. Karena aku ingin kamu, itu saja
J, aku berjanji akan kembali secepatnya, setelah aku mendapatkan semuanya disana. Selama aku pergi nanti, janganlah berubah, karena kamu akan tetap menjadi J yang kucinta. Ketika aku kembali nanti, ketika aku telah mendapatkan semua yang (mungkin) kuinginkan, tetaplah menjadi J yang kucinta. Aku akan selalu membawa kenangan tentangmu dalam hatiku, J.
Sekarang, sebelum aku meninggalkanmu awal bulan depan nanti, J, ijinkanlah aku bersamamu, menikmati seluruhmu, sebentar saja. Akan kukenang semuanya, akan kusimpan semuanya, akan kuingat semuanya, dengan mata, dengan otak, dengan hati.
Salam Cinta,
Di
Jumat, 07 Februari 2014
Untuk Mas K (bagian kedua)
Untuk
Mas K (bagian kedua)
Dear
Mas K, aku tidak tahu surat ini akan menjadi surat keberapaku untukmu. Tapi,
aku sudah cukup mendengar suatu hal kemarin malam yang akhirnya membuatku
kembali menulis surat untukmu hari ini. Ternyata benar sekali bahwa ketakutanku
selama ini sudah menjadi kenyataan.
Selama
ini aku tidak pernah berani membayangkan kenyataan bahwa kamu akan bisa
menyukai orang lain. Sampai satu detik sebelum aku mendengar berita itu, aku
tidak pernah berani membayangkan tentang hal itu. Ternyata kemarin malam aku
mendengar berita kejut (itu berita kejut yang kedua di hari itu) bahwa kamu
sudah menyukai orang lain.
Ternyata
ada seseorang yang membicarakan tentang aku di hadapanmu. Akhirnya kamu
mengucapkan tiga kalimat ini:
Dia sudah pernah berpacaran dengan orang
lain
Aku pun sudah pernah berpacaran dengan orang
lain
Lagipula sekarang aku sudah menyukai orang
lain
Itu
adalah tiga kalimat singkat yang mungkin bisa diucapkan satu sampai dua menit,
bahkan kurang. Tapi, kamu yang mengucapkan tiga kalimat itu mungkin tidak sadar
bahwa efek dari tiga kalimat itu akan berakibat panjang padaku.
Ketika
aku mencoba mencari makna tiga kalimat itu, aku menemukan bahwa kalimat yang
pertama memiliki unsur dendam dan perasaan tidak terima di dalamnya. Tujuh
tahun sudah lewat, tapi peristiwa ini rupanya masih meninggalkan bekas yang
dalam untukmu. Ya, aku tidak akan menyangkal bahwa semuanya memang disebabkan
olehku. Jika tidak ada kalimat pertama, kalimat kedua dan ketiga pun tidak akan
pernah ada. Apakah maaf sekarang masih berguna?
Kalimat
yang kedua menjadi akibat dari kalimat yang pertama. Ternyata benar bahwa kamu
pernah berpacaran dengan orang lain. Aku juga tidak pernah menyangka hal ini
pernah terjadi. Dan sekarang kamu sudah menyukai orang lain.
Satu
detik setelah mendengarnya, aku masih bisa tertawa. Tapi itu bisa ditebak
adalah tawa yang tidak sebenarnya tawa. Setelah beberapa lama diam, akhirnya
aku tidak tahan untuk tidak menangis. Aku sudah lama tidak menangis, dan
kemarin malam aku menangis selama beberapa menit karena sudah tidak tahan lagi.
Aku
memutuskan untuk bekerja agar berhenti menangis, dan merasa takut untuk tidur
karena takut membayangkanmu sebelum tidur.
Mas
K, aku diam-diam merasa beruntung akan pergi dari Indonesia sebentar lagi. Sehingga
aku bisa tidak melihatmu dalam waktu yang cukup lama. Entah apakah sekembalinya
aku ke Indonesia dan bangunan ini, aku sudah bisa menerima kenyataan atau
belum, tapi sedikit lari, aku rasa itu lebih baik daripada berada terus menerus
disini.
Jadi,
entahlah kalimat apa yang terakhir harus diucapkan. Selamat tinggal, maaf,
terima kasih? Entahlah. Aku sendiri juga bingung dengan semuanya.
Kamis, 06 Februari 2014
Untuk Pria Tipe Idealku
Untuk Pria Tipe Idealku
Apa kabar, Bapak? Mungkin Bapak tidak
(atau belum) tahu tentang saya sama sekali, tapi saya tidak. Saya sudah tahu
tentang Bapak, sedikit tahu. Saya masih ingat perjumpaan saya yang pertama kali
dengan Bapak. Hari itu hari Jumat siang. Saya yang sudah sangat pusing dengan
pekerjaan ini sangat tidak suka dengan acara diskusi mendadak di hari Jumat
siang itu yang menjadikan akhir minggu saya tertunda beberapa jam. Tapi
semuanya menjadi lain begitu saya membuka pintu ruangan diskusi. Disana sudah
ada Bapak yang duduk di dalam ruangan dengan memakai baju batik berwarna biru.
Saya sempat tertegun dan kaget tidak bisa bereaksi karena ada Bapak disitu. Saya
berpikir, akhirnya saya menemukan tipe ideal saya hari itu juga. Ya, orang itu
adalah Bapak.
Mungkin ini terdengar aneh. Saya sama
sekali tidak tahu tentang Bapak sebelumnya, tapi saya bisa langsung mengatakan
bahwa Bapak adalah tipe ideal saya. Saya menyukai Bapak yang dari cara
berbicara, cenderung tegas dan galak, juga sangat cerdas. Saya melihat itu
semua ada di dalam diri Bapak ketika itu. Akhirnya selama acara diskusi itu
berlangsung, saya tidak bisa berhenti untuk melihat ke arah Bapak. Saya masih
ingat sampai sekarang dengan kata-kata Bapak, “Orang itu pintar nggak apa-apa,
asal dia terampil.” Saya sangat kagum dengan Bapak dan kata-kata itu.
Akhirnya, setelah acara diskusi itu
usai, saya menjadi tidak bisa berhenti berpikir tentang Bapak. Saya mulai
mencari tahu tentang Bapak di internet dan berhasil mendapatkan sedikit
informasi tentang Bapak. Saya yang sebelumnya merasa malas dengan pekerjaan
yang saya lakukan saat ini, punya cita-cita (yang saya tidak tahu apakah ini
cita-cita baik atau buruk) untuk mengerjakan pekerjaan ini sebaik-baiknya,
sesempurna mungkin, sehingga suatu saat saya akan bisa mengerjakan pekerjaan
ini untuk level yang lebih tinggi dan bertemu lagi dengan Bapak. Sebelum saya
bertemu dengan Bapak lagi, saya harus mempersiapkan diri saya dengan kemampuan
yang harus setara dengan Bapak, tentu agar tidak membuat saya malu di hadapan
Bapak.
Mungkin cita-cita saya itu terdengar
berlebihan, tapi saya menganggapnya sebagai hal yang baik, untuk membuat saya
merasa bersemangat dalam pekerjaan dan mau mengerjakan segala hal dengan
sempurna, termasuk pekerjaan yang sebenarnya sangat membosankan dan memuakkan
ini. Walaupun saya sendiri juga tidak tahu apakah akan bisa bertemu dengan
Bapak lagi, tapi paling tidak, dengan mengerjakan pekerjaan awal ini
sebaik-baiknya, ini akan menjadi langkah-langkah kecil untuk pelan-pelan bisa
menuju ke tempat Bapak berada saat ini. Saya akan terus bersemangat mengerjakan
pekerjaan ini sampai saat itu tiba.
Sekarang pekerjaan saya yang kecil
ini sudah selesai. Maka sebagai perayaan bagi diri saya karena pekerjaan ini
sudah selesai, saya tulis surat ini, dengan harapan agar lima tahun lagi,
ketika saya sudah kembali dari negeri jauh, dan kembali harus mengerjakan
pekerjaan ini lagi, saya bisa bertemu dengan Bapak lagi, di level pekerjaan
yang lebih tinggi, sudah lebih pintar dan tidak malu di hadapan Bapak, sehingga
bisa membuat Bapak bangga.
Langganan:
Postingan (Atom)








