Untuk Pria Tipe Idealku
Apa kabar, Bapak? Mungkin Bapak tidak
(atau belum) tahu tentang saya sama sekali, tapi saya tidak. Saya sudah tahu
tentang Bapak, sedikit tahu. Saya masih ingat perjumpaan saya yang pertama kali
dengan Bapak. Hari itu hari Jumat siang. Saya yang sudah sangat pusing dengan
pekerjaan ini sangat tidak suka dengan acara diskusi mendadak di hari Jumat
siang itu yang menjadikan akhir minggu saya tertunda beberapa jam. Tapi
semuanya menjadi lain begitu saya membuka pintu ruangan diskusi. Disana sudah
ada Bapak yang duduk di dalam ruangan dengan memakai baju batik berwarna biru.
Saya sempat tertegun dan kaget tidak bisa bereaksi karena ada Bapak disitu. Saya
berpikir, akhirnya saya menemukan tipe ideal saya hari itu juga. Ya, orang itu
adalah Bapak.
Mungkin ini terdengar aneh. Saya sama
sekali tidak tahu tentang Bapak sebelumnya, tapi saya bisa langsung mengatakan
bahwa Bapak adalah tipe ideal saya. Saya menyukai Bapak yang dari cara
berbicara, cenderung tegas dan galak, juga sangat cerdas. Saya melihat itu
semua ada di dalam diri Bapak ketika itu. Akhirnya selama acara diskusi itu
berlangsung, saya tidak bisa berhenti untuk melihat ke arah Bapak. Saya masih
ingat sampai sekarang dengan kata-kata Bapak, “Orang itu pintar nggak apa-apa,
asal dia terampil.” Saya sangat kagum dengan Bapak dan kata-kata itu.
Akhirnya, setelah acara diskusi itu
usai, saya menjadi tidak bisa berhenti berpikir tentang Bapak. Saya mulai
mencari tahu tentang Bapak di internet dan berhasil mendapatkan sedikit
informasi tentang Bapak. Saya yang sebelumnya merasa malas dengan pekerjaan
yang saya lakukan saat ini, punya cita-cita (yang saya tidak tahu apakah ini
cita-cita baik atau buruk) untuk mengerjakan pekerjaan ini sebaik-baiknya,
sesempurna mungkin, sehingga suatu saat saya akan bisa mengerjakan pekerjaan
ini untuk level yang lebih tinggi dan bertemu lagi dengan Bapak. Sebelum saya
bertemu dengan Bapak lagi, saya harus mempersiapkan diri saya dengan kemampuan
yang harus setara dengan Bapak, tentu agar tidak membuat saya malu di hadapan
Bapak.
Mungkin cita-cita saya itu terdengar
berlebihan, tapi saya menganggapnya sebagai hal yang baik, untuk membuat saya
merasa bersemangat dalam pekerjaan dan mau mengerjakan segala hal dengan
sempurna, termasuk pekerjaan yang sebenarnya sangat membosankan dan memuakkan
ini. Walaupun saya sendiri juga tidak tahu apakah akan bisa bertemu dengan
Bapak lagi, tapi paling tidak, dengan mengerjakan pekerjaan awal ini
sebaik-baiknya, ini akan menjadi langkah-langkah kecil untuk pelan-pelan bisa
menuju ke tempat Bapak berada saat ini. Saya akan terus bersemangat mengerjakan
pekerjaan ini sampai saat itu tiba.
Sekarang pekerjaan saya yang kecil
ini sudah selesai. Maka sebagai perayaan bagi diri saya karena pekerjaan ini
sudah selesai, saya tulis surat ini, dengan harapan agar lima tahun lagi,
ketika saya sudah kembali dari negeri jauh, dan kembali harus mengerjakan
pekerjaan ini lagi, saya bisa bertemu dengan Bapak lagi, di level pekerjaan
yang lebih tinggi, sudah lebih pintar dan tidak malu di hadapan Bapak, sehingga
bisa membuat Bapak bangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar