Kamis, 06 Februari 2014

Untuk Pria Tipe Idealku


Untuk Pria Tipe Idealku

Apa kabar, Bapak? Mungkin Bapak tidak (atau belum) tahu tentang saya sama sekali, tapi saya tidak. Saya sudah tahu tentang Bapak, sedikit tahu. Saya masih ingat perjumpaan saya yang pertama kali dengan Bapak. Hari itu hari Jumat siang. Saya yang sudah sangat pusing dengan pekerjaan ini sangat tidak suka dengan acara diskusi mendadak di hari Jumat siang itu yang menjadikan akhir minggu saya tertunda beberapa jam. Tapi semuanya menjadi lain begitu saya membuka pintu ruangan diskusi. Disana sudah ada Bapak yang duduk di dalam ruangan dengan memakai baju batik berwarna biru. Saya sempat tertegun dan kaget tidak bisa bereaksi karena ada Bapak disitu. Saya berpikir, akhirnya saya menemukan tipe ideal saya hari itu juga. Ya, orang itu adalah Bapak.

Mungkin ini terdengar aneh. Saya sama sekali tidak tahu tentang Bapak sebelumnya, tapi saya bisa langsung mengatakan bahwa Bapak adalah tipe ideal saya. Saya menyukai Bapak yang dari cara berbicara, cenderung tegas dan galak, juga sangat cerdas. Saya melihat itu semua ada di dalam diri Bapak ketika itu. Akhirnya selama acara diskusi itu berlangsung, saya tidak bisa berhenti untuk melihat ke arah Bapak. Saya masih ingat sampai sekarang dengan kata-kata Bapak, “Orang itu pintar nggak apa-apa, asal dia terampil.” Saya sangat kagum dengan Bapak dan kata-kata itu. 

Akhirnya, setelah acara diskusi itu usai, saya menjadi tidak bisa berhenti berpikir tentang Bapak. Saya mulai mencari tahu tentang Bapak di internet dan berhasil mendapatkan sedikit informasi tentang Bapak. Saya yang sebelumnya merasa malas dengan pekerjaan yang saya lakukan saat ini, punya cita-cita (yang saya tidak tahu apakah ini cita-cita baik atau buruk) untuk mengerjakan pekerjaan ini sebaik-baiknya, sesempurna mungkin, sehingga suatu saat saya akan bisa mengerjakan pekerjaan ini untuk level yang lebih tinggi dan bertemu lagi dengan Bapak. Sebelum saya bertemu dengan Bapak lagi, saya harus mempersiapkan diri saya dengan kemampuan yang harus setara dengan Bapak, tentu agar tidak membuat saya malu di hadapan Bapak.

Mungkin cita-cita saya itu terdengar berlebihan, tapi saya menganggapnya sebagai hal yang baik, untuk membuat saya merasa bersemangat dalam pekerjaan dan mau mengerjakan segala hal dengan sempurna, termasuk pekerjaan yang sebenarnya sangat membosankan dan memuakkan ini. Walaupun saya sendiri juga tidak tahu apakah akan bisa bertemu dengan Bapak lagi, tapi paling tidak, dengan mengerjakan pekerjaan awal ini sebaik-baiknya, ini akan menjadi langkah-langkah kecil untuk pelan-pelan bisa menuju ke tempat Bapak berada saat ini. Saya akan terus bersemangat mengerjakan pekerjaan ini sampai saat itu tiba.

Sekarang pekerjaan saya yang kecil ini sudah selesai. Maka sebagai perayaan bagi diri saya karena pekerjaan ini sudah selesai, saya tulis surat ini, dengan harapan agar lima tahun lagi, ketika saya sudah kembali dari negeri jauh, dan kembali harus mengerjakan pekerjaan ini lagi, saya bisa bertemu dengan Bapak lagi, di level pekerjaan yang lebih tinggi, sudah lebih pintar dan tidak malu di hadapan Bapak, sehingga bisa membuat Bapak bangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar