Jumat, 07 Februari 2014

Untuk Mas K (bagian kedua)


Untuk Mas K (bagian kedua)

Dear Mas K, aku tidak tahu surat ini akan menjadi surat keberapaku untukmu. Tapi, aku sudah cukup mendengar suatu hal kemarin malam yang akhirnya membuatku kembali menulis surat untukmu hari ini. Ternyata benar sekali bahwa ketakutanku selama ini sudah menjadi kenyataan.

Selama ini aku tidak pernah berani membayangkan kenyataan bahwa kamu akan bisa menyukai orang lain. Sampai satu detik sebelum aku mendengar berita itu, aku tidak pernah berani membayangkan tentang hal itu. Ternyata kemarin malam aku mendengar berita kejut (itu berita kejut yang kedua di hari itu) bahwa kamu sudah menyukai orang lain.

Ternyata ada seseorang yang membicarakan tentang aku di hadapanmu. Akhirnya kamu mengucapkan tiga kalimat ini:

Dia sudah pernah berpacaran dengan orang lain
Aku pun sudah pernah berpacaran dengan orang lain
Lagipula sekarang aku sudah menyukai orang lain

Itu adalah tiga kalimat singkat yang mungkin bisa diucapkan satu sampai dua menit, bahkan kurang. Tapi, kamu yang mengucapkan tiga kalimat itu mungkin tidak sadar bahwa efek dari tiga kalimat itu akan berakibat panjang padaku. 

Ketika aku mencoba mencari makna tiga kalimat itu, aku menemukan bahwa kalimat yang pertama memiliki unsur dendam dan perasaan tidak terima di dalamnya. Tujuh tahun sudah lewat, tapi peristiwa ini rupanya masih meninggalkan bekas yang dalam untukmu. Ya, aku tidak akan menyangkal bahwa semuanya memang disebabkan olehku. Jika tidak ada kalimat pertama, kalimat kedua dan ketiga pun tidak akan pernah ada. Apakah maaf sekarang masih berguna?

Kalimat yang kedua menjadi akibat dari kalimat yang pertama. Ternyata benar bahwa kamu pernah berpacaran dengan orang lain. Aku juga tidak pernah menyangka hal ini pernah terjadi. Dan sekarang kamu sudah menyukai orang lain.

Satu detik setelah mendengarnya, aku masih bisa tertawa. Tapi itu bisa ditebak adalah tawa yang tidak sebenarnya tawa. Setelah beberapa lama diam, akhirnya aku tidak tahan untuk tidak menangis. Aku sudah lama tidak menangis, dan kemarin malam aku menangis selama beberapa menit karena sudah tidak tahan lagi.

Aku memutuskan untuk bekerja agar berhenti menangis, dan merasa takut untuk tidur karena takut membayangkanmu sebelum tidur. 

Mas K, aku diam-diam merasa beruntung akan pergi dari Indonesia sebentar lagi. Sehingga aku bisa tidak melihatmu dalam waktu yang cukup lama. Entah apakah sekembalinya aku ke Indonesia dan bangunan ini, aku sudah bisa menerima kenyataan atau belum, tapi sedikit lari, aku rasa itu lebih baik daripada berada terus menerus disini.

Jadi, entahlah kalimat apa yang terakhir harus diucapkan. Selamat tinggal, maaf, terima kasih? Entahlah. Aku sendiri juga bingung dengan semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar