Untuk
Mas K (bagian kedua)
Dear
Mas K, aku tidak tahu surat ini akan menjadi surat keberapaku untukmu. Tapi,
aku sudah cukup mendengar suatu hal kemarin malam yang akhirnya membuatku
kembali menulis surat untukmu hari ini. Ternyata benar sekali bahwa ketakutanku
selama ini sudah menjadi kenyataan.
Selama
ini aku tidak pernah berani membayangkan kenyataan bahwa kamu akan bisa
menyukai orang lain. Sampai satu detik sebelum aku mendengar berita itu, aku
tidak pernah berani membayangkan tentang hal itu. Ternyata kemarin malam aku
mendengar berita kejut (itu berita kejut yang kedua di hari itu) bahwa kamu
sudah menyukai orang lain.
Ternyata
ada seseorang yang membicarakan tentang aku di hadapanmu. Akhirnya kamu
mengucapkan tiga kalimat ini:
Dia sudah pernah berpacaran dengan orang
lain
Aku pun sudah pernah berpacaran dengan orang
lain
Lagipula sekarang aku sudah menyukai orang
lain
Itu
adalah tiga kalimat singkat yang mungkin bisa diucapkan satu sampai dua menit,
bahkan kurang. Tapi, kamu yang mengucapkan tiga kalimat itu mungkin tidak sadar
bahwa efek dari tiga kalimat itu akan berakibat panjang padaku.
Ketika
aku mencoba mencari makna tiga kalimat itu, aku menemukan bahwa kalimat yang
pertama memiliki unsur dendam dan perasaan tidak terima di dalamnya. Tujuh
tahun sudah lewat, tapi peristiwa ini rupanya masih meninggalkan bekas yang
dalam untukmu. Ya, aku tidak akan menyangkal bahwa semuanya memang disebabkan
olehku. Jika tidak ada kalimat pertama, kalimat kedua dan ketiga pun tidak akan
pernah ada. Apakah maaf sekarang masih berguna?
Kalimat
yang kedua menjadi akibat dari kalimat yang pertama. Ternyata benar bahwa kamu
pernah berpacaran dengan orang lain. Aku juga tidak pernah menyangka hal ini
pernah terjadi. Dan sekarang kamu sudah menyukai orang lain.
Satu
detik setelah mendengarnya, aku masih bisa tertawa. Tapi itu bisa ditebak
adalah tawa yang tidak sebenarnya tawa. Setelah beberapa lama diam, akhirnya
aku tidak tahan untuk tidak menangis. Aku sudah lama tidak menangis, dan
kemarin malam aku menangis selama beberapa menit karena sudah tidak tahan lagi.
Aku
memutuskan untuk bekerja agar berhenti menangis, dan merasa takut untuk tidur
karena takut membayangkanmu sebelum tidur.
Mas
K, aku diam-diam merasa beruntung akan pergi dari Indonesia sebentar lagi. Sehingga
aku bisa tidak melihatmu dalam waktu yang cukup lama. Entah apakah sekembalinya
aku ke Indonesia dan bangunan ini, aku sudah bisa menerima kenyataan atau
belum, tapi sedikit lari, aku rasa itu lebih baik daripada berada terus menerus
disini.
Jadi,
entahlah kalimat apa yang terakhir harus diucapkan. Selamat tinggal, maaf,
terima kasih? Entahlah. Aku sendiri juga bingung dengan semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar