Senin, 03 Februari 2014

Untuk Mas K


Untuk Mas K
                                                                                                
                                                       30 Hari Menulis Surat Cinta (Hari Ke-1)

Ketika pertama kali membayangkan surat cinta, orang yang pertama kali terbayang harus kukirimi surat cinta, tentu saja, kamu sendiri pasti sudah bisa menebak, ya, pasti kamu. Tapi, ketika harus mulai menulis kata pembuka untuk surat ini, lagi-lagi, kamu pasti juga sudah bisa menebak, bahwa kata yang keluar bukanlah kata yang seharusnya aku tuliskan.

Karena kamu sendiri juga pasti sudah mengerti, kalau aku memang sangat ingin banyak menulis padamu, tapi semua kata hilang dari catatan yang sudah kusiapkan semalam suntuk, hanya ketika mendengar namamu.
Itulah mungkin sebabnya aku bersedia menunggu kamu selama ini, mungkin kedengarannya menunggu sesuatu yang sangat tidak pasti, tapi aku bersedia melakukannya. Karena hanya dengan mendengar namamu, ada hal yang tidak biasa di dalam kepalaku, juga di dalam perut dan hatiku. Entah apa namanya ini, aku sendiri juga tidak ingin mendefinisikannya.

Baiklah, sebaiknya aku mulai dari mana surat ini ya? Hmm, mungkin lebih baik kalau aku mulai dari waktu. Waktu seperti berlari dalam ketidakpeduliannya terhadapku, sampai sekarang, tanpa terasa, sudah tahun ketujuh aku berada disini menunggu kamu. Kamu tahu, tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untukku. Tujuh tahun terasa sangat panjang, dan oh ya, juga tidak ada ujung, tidak ada hasil, dan masih banyak tidak ada yang lainnya. Tapi sekali lagi, jalan yang seperti tidak ada ujung itu tidak sebanding dengan ketika aku hanya melihatmu, sekali lagi kutuliskan, hanya melihatmu. 

Kamu berada di jarak yang sangat dekat denganku. Kita hanya terpisah oleh satu bangunan dan satu lantai. Jarak yang masih bisa kuukur dengan kemampuanku. Tapi apakah jarak yang sedekat itu lantas memungkinkan perjumpaan kita? Di satu waktu tertentu, ya. Aku masih ingat perjumpaan kita beberapa hari yang lalu yang tampak seperti adegan dalam drama. Kamu melihatku dari cermin, lalu berlalu begitu saja. Ya, berlalu begitu saja. Kamu pasti masih ingat juga kan?

Tapi ternyata pertemuan lebih banyak berkata tidak untuk kita. Karena aku berada di balik ruangan kaca, sedangkan kamu ditutupi oleh tembok dan layar komputer. Tidak masalah, bagiku. Karena kamu adalah hal yang kulipat rapat dan rapi, kumasukkan dalam kantong kecil bernama hati, dan kubawa kemana-mana, seperti orang Jepang yang suka membawa omamori. 

Ah, ya, aku sudah mendapatkan definisi tentangmu. Kamu adalah omamori buatku. Kamu jimat yang berisi doa. Dengan meyakini bahwa kamu adalah jimat yang masih selalu mengingat dan mendoakan aku, aku terus beranggapan bahwa proses (ya, aku meyakininya sebagai proses) menunggu yang sudah memasuki tahun ketujuh ini  akan ada hasil yang baik untukku. Entah hasil apa, aku sendiri juga tidak berani membayangkannya. Ah, ternyata di balik keyakinanku, masih ada berpuluh-puluh ketakutan tentang kenyataan yang harus kuhadapi.

Aku sendiri masih tidak tahu sampai tahun keberapa aku akan bersedia menunggumu. Tapi, aku sendiri sudah meyakini, bahwa kalau tidak dengan kamu, berarti tidak dengan semua orang di seluruh penjuru bangunan ini. Semua yang mengelilingi bangunan kecil ini, sama dengan kamu. Katakanlah, aku sudah sampai pada tahap tidak bisa lagi membayangkan dengan yang selain kamu.

Beginilah Mas K, suratku yang pertama. Mungkin terdengar berlebihan bagimu, tapi kalau kamu jadi aku, aku yakin kamu pasti akan tahu rasanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar