Untuk
Mas K
30 Hari Menulis Surat Cinta (Hari Ke-1)
Ketika
pertama kali membayangkan surat cinta, orang yang pertama kali terbayang harus
kukirimi surat cinta, tentu saja, kamu sendiri pasti sudah bisa menebak, ya,
pasti kamu. Tapi, ketika harus mulai menulis kata pembuka untuk surat ini,
lagi-lagi, kamu pasti juga sudah bisa menebak, bahwa kata yang keluar bukanlah
kata yang seharusnya aku tuliskan.
Karena
kamu sendiri juga pasti sudah mengerti, kalau aku memang sangat ingin banyak
menulis padamu, tapi semua kata hilang dari catatan yang sudah kusiapkan
semalam suntuk, hanya ketika mendengar namamu.
Itulah
mungkin sebabnya aku bersedia menunggu kamu selama ini, mungkin kedengarannya
menunggu sesuatu yang sangat tidak pasti, tapi aku bersedia melakukannya. Karena
hanya dengan mendengar namamu, ada hal yang tidak biasa di dalam kepalaku, juga
di dalam perut dan hatiku. Entah apa namanya ini, aku sendiri juga tidak ingin
mendefinisikannya.
Baiklah,
sebaiknya aku mulai dari mana surat ini ya? Hmm, mungkin lebih baik kalau aku
mulai dari waktu. Waktu seperti berlari dalam ketidakpeduliannya terhadapku,
sampai sekarang, tanpa terasa, sudah tahun ketujuh aku berada disini menunggu
kamu. Kamu tahu, tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untukku. Tujuh tahun terasa
sangat panjang, dan oh ya, juga tidak ada ujung, tidak ada hasil, dan masih
banyak tidak ada yang lainnya. Tapi sekali lagi, jalan yang seperti tidak ada
ujung itu tidak sebanding dengan ketika aku hanya melihatmu, sekali lagi
kutuliskan, hanya melihatmu.
Kamu
berada di jarak yang sangat dekat denganku. Kita hanya terpisah oleh satu
bangunan dan satu lantai. Jarak yang masih bisa kuukur dengan kemampuanku. Tapi
apakah jarak yang sedekat itu lantas memungkinkan perjumpaan kita? Di satu
waktu tertentu, ya. Aku masih ingat perjumpaan kita beberapa hari yang lalu
yang tampak seperti adegan dalam drama. Kamu melihatku dari cermin, lalu
berlalu begitu saja. Ya, berlalu begitu saja. Kamu pasti masih ingat juga kan?
Tapi
ternyata pertemuan lebih banyak berkata tidak untuk kita. Karena aku berada di
balik ruangan kaca, sedangkan kamu ditutupi oleh tembok dan layar komputer.
Tidak masalah, bagiku. Karena kamu adalah hal yang kulipat rapat dan rapi,
kumasukkan dalam kantong kecil bernama hati, dan kubawa kemana-mana, seperti
orang Jepang yang suka membawa omamori.
Ah,
ya, aku sudah mendapatkan definisi tentangmu. Kamu adalah omamori buatku. Kamu
jimat yang berisi doa. Dengan meyakini bahwa kamu adalah jimat yang masih
selalu mengingat dan mendoakan aku, aku terus beranggapan bahwa proses (ya, aku
meyakininya sebagai proses) menunggu yang sudah memasuki tahun ketujuh ini akan ada hasil yang baik untukku. Entah hasil
apa, aku sendiri juga tidak berani membayangkannya. Ah, ternyata di balik
keyakinanku, masih ada berpuluh-puluh ketakutan tentang kenyataan yang harus
kuhadapi.
Aku
sendiri masih tidak tahu sampai tahun keberapa aku akan bersedia menunggumu.
Tapi, aku sendiri sudah meyakini, bahwa kalau tidak dengan kamu, berarti tidak
dengan semua orang di seluruh penjuru bangunan ini. Semua yang mengelilingi bangunan
kecil ini, sama dengan kamu. Katakanlah, aku sudah sampai pada tahap tidak bisa
lagi membayangkan dengan yang selain kamu.
Beginilah
Mas K, suratku yang pertama. Mungkin terdengar berlebihan bagimu, tapi kalau
kamu jadi aku, aku yakin kamu pasti akan tahu rasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar