Hari ini senja kembali mampir ke beranda kamar kita di lantai enam
Aku berlari kesana membawa sebuah kamera
Bersiap mengejarnya
Akhirnya senja pulang lagi setelah badai melanda kota kita
Aku berdiri sendirian di beranda kamar seperti hari-hari yang biasa
Menunggu kamu pulang untuk kita makan malam bersama
Kemudian kita minum teh hangat tanpa gula sambil membicarakan cinta yang tak usai hingga malam tiba
Aku tetap bertanya-tanya, apakah kita sedang memandang senja yang sama?
Mungkin dalam perjalananmu pulang dari kantor, sambil menyetir mobil dan bergulat dengan kemacetan yang sama setiap hari
Kamu bisa mengintip senja barang sejenak?
Sekedar istirahat untuk membebaskan diri dari penat kemacetan yang setiap malam kamu keluhkan
Sambil memandang senja aku melamun
Teringat perdebatan kita suatu hari
Kamu pernah bertanya padaku, setelah dengan terpaksa kamu menemaniku mengejar senja biar aku tidak marah
Kamu bertanya kenapa aku terlalu suka mengejar senja
"Senja hanya datang sebentar, Dia berada di waktu antara, antara siang dan malam. Aku suka berada di waktu antara. Kamu tau, siang selalu membuat aku ingin marah karena panasnya yang menyengat. Siang juga selalu membuatku teringat kamu yang berada di kantor. Apa kamu sudah makan? Apa kamu dimarahi bos? Apa kamu sedang bersama perempuan lain? Semua ketakutan itu menghantuiku setiap siang, sehingga tak sabar menunggu kamu pulang. Sedangkan malam selalu membuat aku sedih karena banyak yang belum selesai hari ini, dan aku takut esok akan datang dengan lebih banyak yang tak terselesaikan. Malam juga selalu membuat aku sedih ketika melihatmu tidur lelap dalam pelukanku, setelah kita puas membicarakan cinta yang tak usai. Kalau aku tidur setiap malam, aku selalu dihantui perasaan takut kehilanganmu. Jangan-jangan ketika aku bangun kamu sudah tidak di pelukanku lagi. Aku takut kamu lari dengan perempuan lain di kantormu. Tapi senja lain, warna jingganya membangkitkan perasaan romantis di dalam hatiku, dia selalu membuatku jatuh cinta. Aku jadi teringat padamu kalau aku sedang jatuh cinta. Lagipula setelah senja usai, kamu akan pulang dan kembali bertemu denganku, kembali mencium dan memelukku. Aku tau kamu akan ada disini lagi."
"Tapi ini aneh. Aku tak pernah suka senja, malah aku benci senja. Dia selalu membangkitkan perasaan sedih yang aneh setiap aku melihatnya. Dia selalu mengingatkan aku dengan perpisahan yang paling kubenci. Setelah siang lalu malam. Seperti itulah. Senja seperti sebuah tanda bahwa hari ini harus selesai begitu saja. Atau jangan-jangan ada mantan pacarmu yang suka senja dan kamu masih selalu teringat dia?"
"Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan mantan pacar. Jangan bilang kamu sedang cemburu. Malah aku hanya memikirkanmu setiap aku mengejar senja. Aku memikirkan apa kita sedang memandang senja yang sama. Aku memikirkan makan malam yang kubuat hari ini mungkin membuatmu senang. Lalu kamu akan segera pulang dan menciumku, bahkan sebelum kamu sempat melepas dasi. Kemudian kita makan malam bersama, lalu berpelukan sampai puas sambil melihat bulan dan bintang. Aku sama sekali tak bisa memberikan senja untukmu, karena dia milik umum, bukan milikku saja. Jadi aku hanya ingin menunjukkan senja untukmu. Bahwa ada senja warna jingga di langit. Anggap saja ini sebagai pengganti surat cinta dan doaku yang setiap hari tak putus untukmu. Setiap hari kalau senja tiba, itu berarti aku selalu mendoakanmu dan cintaku semakin bertambah untukmu."
"Mungkin kita terlalu berbeda. Aku benci senja. Aku lebih suka badai. Aku suka merasakan anginnya yang berputar-putar. Banyak orang takut dengan badai, tapi aku tidak. Aku malah ingin merasakan setiap anginnya memasuki tubuhku."
"Aku juga suka badai, tapi badai pasti berlalu, kan. Waktu itu kita lihat sendiri, setelah badai ada pelangi. Setelah badai bahkan ada senja." kataku menoleh ke arahmu bersama sebuah senyum simpul.
"Badai pasti berlalu, kecuali badai yang satu itu, yang selalu ada di dalam hatiku. Kamu juga tau itu, kan."
Lalu kita mengakhiri perdebatan senja itu dengan sebuah cium hangat di beranda, bersama malam yang telah datang dan bulan dan bintang, juga riuh suara hewan musim panas.
Aku puas dengan lamunanku hingga senyum mengembang di bibirku
Kalaupun hari ini kamu tidak sedang memandang senja, sama sekali bukan masalah
Karena ini sudah jam setengah enam sore
Sebentar lagi senja usai, lalu kita akan ketemu lagi
Aku sudah memotret senja dengan rapi, akan kutunjukkan padamu setelah kamu pulang nanti
Aku membayangkan wajahmu ketika menerima hadiah senja sebagai pengganti surat cintaku
"Senja lagi?" katamu dengan bibir yang pura-pura cemberut, tapi setelah itu bibir itu juga yang akan menghadiahkan ciuman bertubi-tubi di bibirku
Sudah jam sebelas malam dan kamu belum juga pulang
Pasta kesukaanmu untuk makan malam sudah dingin
Ada berpuluh kali aku melirik jam dinding
Tapi suara langkah kakimu belum juga terdengar
Aku mencoba menelponmu, tapi sama sekali tak berbalas
Apa mungkin kamu sedang di jalan sehingga menolak telponku?
Aku mengirim enam pesan, tak ada balasan meskipun ada tanda pesanku terbaca olehmu
Aku duduk sendirian di meja makan memandangi pasta yang sudah dingin dan tampak tak enak lagi
Hari berganti dan kamu tak pulang malam itu, tak pernah terjadi selama aku mengenalmu empat tahun ini
Malam itu setetes hingga dua tetes air mata tak henti menumpahi alas meja makanku
Tak sedetikpun aku lelap karena aku menunggumu
Aku punya banyak cinta malam itu, yang menunggu untuk dikatakan, yang menunggu untuk dipersembahkan hanya untukmu
Termasuk satu cinta yang ada di dalam perutku saat ini, yang baru tadi pagi kuketahui setelah kamu pergi bekerja
Bukan cintaku, bukan cintamu, tapi cinta kita berdua
Tapi ternyata cinta yang ada di dalam hatiku sedang berduka
Pagi itu belum kubuka kotak surat yang ternyata di dalamnya ada fotomu dengan perempuan teman kantormu, kalian masuk karaoke berdua, kalian masuk restoran berdua, kalian turun mobil berdua, entah siapa yang mengambilnya, mungkin orang yang tak suka denganmu, mungkin orang yang tak suka denganku, mungkin orang yang ingin membangunkan kita dari mimpi indah ketika senja dan memaksa kita menerjang badai
Tokyo, 18 September 2015
22:15
Setelah senja, luka masih ada
Jumat, 18 September 2015
Minggu, 24 Mei 2015
Mengejar Senja
Bersabarlah ketika kamu menatap senja yang selalu ada di
depan matamu
Kamu merasa senja tak pernah hadir sendiri
Dia ada bersama kenangan yang tak pernah bisa kamu
tinggalkan
Juga kenyataan yang tak bisa kamu lupakan
Kamu tak perlu takut dengan senja
Kamu hanya harus menghadapinya
Dan katakan aku selalu mengejar senja
Beranikan juga hatimu menikmati tumpukan kalimat yang tak
ada habis
Karena kamu tahu di baliknya ada pula tumpukan makna
Kamu ingat tumpukan kalimat itu yang selalu menemanimu
setiap malam setelah senja pergi bersama kenangan yang menempel padanya
Bersamanya kamu tumbuh dan hidup dewasa
Dalam dunia yang bisa kamu maknai sejuta
Makna itu mungkin ratusan kali lebih indah dari senja yang
selalu kamu kejar dengan kamera
Kamu juga tak perlu takut melihat tawa
Manusia tidak hanya hadir dengan lipatan kenangan karena
terlalu sering melihat senja, tapi juga tawa karena merasa terlalu bahagia hidupnya
Yang kamu harus lakukan hanya balik tertawa, sambil terus
memandang senja, dan tak henti memaknainya
Tokyo, 2015-05-25 01:39
bersama kenangan akan sepotong senja paling indah di dunia
juga sepotong kenangan paling indah di dunia
di sela-sela berkejaran waktu dengan deadline
Senin, 08 September 2014
Selamat Malam, Senja
Sudah kulihat langit senja di sebelah barat
Warnanya jingga
Selamat datang senja musim gugur yang datang lebih awal
Aku selalu suka senja dalam satu hari
Senja selalu mengingatkan aku pada sebuah antara
Antara siang dan malam ada senja
Antara pertemuan dan perpisahan ada pesta
Senja seperti pesta sebelum berpisah
Duduklah di pinggir pantai dan lihatlah senja
Megah seperti pesta, setelah senja pergi kemudian kudapati kosong
Di pesta ketika senja aku bebas duduk dan minum es kelapa
Kadang bicara dengan orang tercinta
Senja juga selalu mengingatkan aku pada Sukab*
Ingin sekali suatu saat datang kembali Sukab yang selalu menghadiahkan senja dalam kartu pos untukku
Aku diperlakukannya seperti Alina
Senja mengingatkan aku juga pada keengganan untuk berpisah dengan orang terkasih
Ini bagian terberat yang harus kupahami tentang senja
Bersama senja aku berharap dapat mengukur waktu yang makin berjarak
Dengan terus berharap pada terang matahari, tapi matahari tetap tenggelam di barat
Harus berpisah
Tak apa, besok bertemu lagi, katanya suatu ketika, sambil menyelipkan kartu pos bergambar senja di tasku
Kekasihku pergi, hanya bayangannya tinggal bersama senja
Sekilas kulirik senja yang kini ada dalam tasku
Akan kupajang dalam kamar segera, dengan senja lain yang selama ini selalu dihadiahkannya padaku
Selamat malam, Senja... Selamat malam, orang terkasih
Tapi besok orang terkasih tak datang lagi, hanya senja datang sendiri
Tokyo, 8 September 2014 18:38
senja musim gugur yang datang lebih awal
*Sukab dalam Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma
Warnanya jingga
Selamat datang senja musim gugur yang datang lebih awal
Aku selalu suka senja dalam satu hari
Senja selalu mengingatkan aku pada sebuah antara
Antara siang dan malam ada senja
Antara pertemuan dan perpisahan ada pesta
Senja seperti pesta sebelum berpisah
Duduklah di pinggir pantai dan lihatlah senja
Megah seperti pesta, setelah senja pergi kemudian kudapati kosong
Di pesta ketika senja aku bebas duduk dan minum es kelapa
Kadang bicara dengan orang tercinta
Senja juga selalu mengingatkan aku pada Sukab*
Ingin sekali suatu saat datang kembali Sukab yang selalu menghadiahkan senja dalam kartu pos untukku
Aku diperlakukannya seperti Alina
Senja mengingatkan aku juga pada keengganan untuk berpisah dengan orang terkasih
Ini bagian terberat yang harus kupahami tentang senja
Bersama senja aku berharap dapat mengukur waktu yang makin berjarak
Dengan terus berharap pada terang matahari, tapi matahari tetap tenggelam di barat
Harus berpisah
Tak apa, besok bertemu lagi, katanya suatu ketika, sambil menyelipkan kartu pos bergambar senja di tasku
Kekasihku pergi, hanya bayangannya tinggal bersama senja
Sekilas kulirik senja yang kini ada dalam tasku
Akan kupajang dalam kamar segera, dengan senja lain yang selama ini selalu dihadiahkannya padaku
Selamat malam, Senja... Selamat malam, orang terkasih
Tapi besok orang terkasih tak datang lagi, hanya senja datang sendiri
Tokyo, 8 September 2014 18:38
senja musim gugur yang datang lebih awal
*Sukab dalam Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma
Selasa, 10 Juni 2014
Omamori, Mimpi
Apa memang benar doa yang terlipat rapi dan terbungkus dalam omamori itu?
Bermacam doa hingga bermacam omamori
Aku pun mengharapkan satu doa yang terucap dalam gelap sebelum lelap
Dan lelah
Sejenak lupa
Dan kamu pun kurasa mengamini doa itu
Lama kamu bersembunyi dalam baris lipatan doa omamori
Kembali kita bertemu dalam satu mimpi di malam musim panas
Kurasa peri musim panas sudah tiba dan menerbangkan mimpinya padaku
Ah, bolehkah mimpi datang begini saja?
Kamu hanya berjanji pelan
Akan selalu datang dalam mimpi, ketika mata tertutup dan jiwa setengah lelap
Salah satu ruang di hati kosong ditinggalkan penghuninya
Katamu, supaya tak ada yang tahu bahwa dalam mimpi kita bisa menyambung rindu
Biar semuanya tetap jadi rahasia kita dan mimpi
Sekedar melekatkan tangan dan melihat
Untuk percaya rindu masih bisa diikat
Yakin bahwa jalan bahagia tak harus selalu nyata
Karena kamu tak bisa datang dalam nyata, nanti terlalu banyak yang akan tahu dan tidak setuju
Pagi itu aku bangun, silau mataku karena cahaya
Ah, ternyata aku lupa menutup gorden karena semalaman melihat hujan
Pagi itu aku tahu kalau mimpi adalah mimpi, tapi katamu mimpi itu nyata
Sudah pergi dan nanti malam akan kembali dalam mimpi
Aku harus bangun sendiri
(Tokyo, 10 Juni 2014 hari Selasa)
pagi hari terbangun dari mimpi
Bermacam doa hingga bermacam omamori
Aku pun mengharapkan satu doa yang terucap dalam gelap sebelum lelap
Dan lelah
Sejenak lupa
Dan kamu pun kurasa mengamini doa itu
Lama kamu bersembunyi dalam baris lipatan doa omamori
Kembali kita bertemu dalam satu mimpi di malam musim panas
Kurasa peri musim panas sudah tiba dan menerbangkan mimpinya padaku
Ah, bolehkah mimpi datang begini saja?
Kamu hanya berjanji pelan
Akan selalu datang dalam mimpi, ketika mata tertutup dan jiwa setengah lelap
Salah satu ruang di hati kosong ditinggalkan penghuninya
Katamu, supaya tak ada yang tahu bahwa dalam mimpi kita bisa menyambung rindu
Biar semuanya tetap jadi rahasia kita dan mimpi
Sekedar melekatkan tangan dan melihat
Untuk percaya rindu masih bisa diikat
Yakin bahwa jalan bahagia tak harus selalu nyata
Karena kamu tak bisa datang dalam nyata, nanti terlalu banyak yang akan tahu dan tidak setuju
Pagi itu aku bangun, silau mataku karena cahaya
Ah, ternyata aku lupa menutup gorden karena semalaman melihat hujan
Pagi itu aku tahu kalau mimpi adalah mimpi, tapi katamu mimpi itu nyata
Sudah pergi dan nanti malam akan kembali dalam mimpi
Aku harus bangun sendiri
(Tokyo, 10 Juni 2014 hari Selasa)
pagi hari terbangun dari mimpi
Senin, 09 Juni 2014
Mata
Siapa yang sanggup mempercayai pandangan mata?
Ceritakan padaku jika ada
Ternyata semua pandangan mata adalah rindu yang terbungkus rapi seperti kado ulang tahun
Ketika kado dibuka
Ternyata isinya cerita dan duka
Air mata
Hingga lupa suka pernah ada dan nyata
Ah, selama ini suka ternyata hanya imajinasi
Betapa indah imajinasi mata, seperti surga yang menjanjikan segala bahagia
Tak pernah menyadari hingga baru ini
Lagi-lagi lewat pandangan mata
Tak pernah mengira sekuat itu mata bisa mengubah semua cerita
Ternyata rindu yang selama ini dibahasakan mata tak tampak
Setujukah kamu kalau kukatakan ini?
Rindu tak seperti surga
Mata membuat rindu seolah tak pernah tampak palsu
Mata menutup mata
Seperti indah tapi sebenarnya duka
Seperti mendung menutup matahari kemudian hujan
Air mata
Sekarang ketika hari cerah kembali
Bukan pelangi, tapi cukup cerah untuk sekedar melangkah keluar rumah
Seperti itu mata terbuka, terbebas dari buta
Seperti orang bisa membaca buku, bisa berpikir dan merasa
Rindu hanya mimpi
Yang nyata hanya kini
Tapi mungkin kamu akan lebih setuju denganku jika kukatakan
Seperti tak perlu merasa sedih ketika hujan
Jangan lupakan rindu semu
Kenang saja rindu seperti mengenang hujan setelah terbit matahari
Sungguh hujan sesaat yang menyejukkan
Hujan sesaat, rindu sesaat
Tak perlu juga sedih ketika harus membuka mata
Benci pun tak perlu kepada mata
Karena cahaya ada di depan mata
Dan cahaya tak pernah salah, berikan sedikit cahaya untukku
(Tokyo, 8 Juni 2014.. Malam hari, hari Minggu)
All I hear is "rain" drops
Ceritakan padaku jika ada
Ternyata semua pandangan mata adalah rindu yang terbungkus rapi seperti kado ulang tahun
Ketika kado dibuka
Ternyata isinya cerita dan duka
Air mata
Hingga lupa suka pernah ada dan nyata
Ah, selama ini suka ternyata hanya imajinasi
Betapa indah imajinasi mata, seperti surga yang menjanjikan segala bahagia
Tak pernah menyadari hingga baru ini
Lagi-lagi lewat pandangan mata
Tak pernah mengira sekuat itu mata bisa mengubah semua cerita
Ternyata rindu yang selama ini dibahasakan mata tak tampak
Setujukah kamu kalau kukatakan ini?
Rindu tak seperti surga
Mata membuat rindu seolah tak pernah tampak palsu
Mata menutup mata
Seperti indah tapi sebenarnya duka
Seperti mendung menutup matahari kemudian hujan
Air mata
Sekarang ketika hari cerah kembali
Bukan pelangi, tapi cukup cerah untuk sekedar melangkah keluar rumah
Seperti itu mata terbuka, terbebas dari buta
Seperti orang bisa membaca buku, bisa berpikir dan merasa
Rindu hanya mimpi
Yang nyata hanya kini
Tapi mungkin kamu akan lebih setuju denganku jika kukatakan
Seperti tak perlu merasa sedih ketika hujan
Jangan lupakan rindu semu
Kenang saja rindu seperti mengenang hujan setelah terbit matahari
Sungguh hujan sesaat yang menyejukkan
Hujan sesaat, rindu sesaat
Tak perlu juga sedih ketika harus membuka mata
Benci pun tak perlu kepada mata
Karena cahaya ada di depan mata
Dan cahaya tak pernah salah, berikan sedikit cahaya untukku
(Tokyo, 8 Juni 2014.. Malam hari, hari Minggu)
All I hear is "rain" drops
Jumat, 06 Juni 2014
Memori
Hujan selalu mengembalikan ingatan
Kekasih yang pergi dan tidak kembali
Kampung halaman yang dulu sepi kini terisi
Kota yang mendewasakan
Ilmu yang mengagumkan, juga guru yang bijak
Mimpi yang kecil, tidak pernah mewujud
Sahabat-sahabat kecil yang setia bersepeda menembus hujan
Masa kecil bermain lompat tali di teras rumah, di bawah bulan purnama
Sayap yang membuat tidak pernah berhenti terbang
Pandangan mata penuh sakit hati, juga mencuri hati
Kota besar yang kini gelap diselimuti malam
Orang yang kini duduk di sebelah
Orang yang hilir mudik dengan payung di tangan kiri, juga keluh di wajah
Lagu yang mirip kisah dengan kekasih
Senja yang selalu dicari
Matahari yang dirindukan hangatnya
Laut yang tidak tergantikan aromanya
Gunung yang sejuk dan penuh suara tawa
Bising yang mewah dan akrab
Selamat malam, hujan.. Selamat datang kembali bersama ingatan..
(Tokyo, 6 Juni 2014 19:27, hari Jumat)
Masih hujan sejak pagi
Kekasih yang pergi dan tidak kembali
Kampung halaman yang dulu sepi kini terisi
Kota yang mendewasakan
Ilmu yang mengagumkan, juga guru yang bijak
Mimpi yang kecil, tidak pernah mewujud
Sahabat-sahabat kecil yang setia bersepeda menembus hujan
Masa kecil bermain lompat tali di teras rumah, di bawah bulan purnama
Sayap yang membuat tidak pernah berhenti terbang
Pandangan mata penuh sakit hati, juga mencuri hati
Kota besar yang kini gelap diselimuti malam
Orang yang kini duduk di sebelah
Orang yang hilir mudik dengan payung di tangan kiri, juga keluh di wajah
Lagu yang mirip kisah dengan kekasih
Senja yang selalu dicari
Matahari yang dirindukan hangatnya
Laut yang tidak tergantikan aromanya
Gunung yang sejuk dan penuh suara tawa
Bising yang mewah dan akrab
Selamat malam, hujan.. Selamat datang kembali bersama ingatan..
(Tokyo, 6 Juni 2014 19:27, hari Jumat)
Masih hujan sejak pagi
Kamis, 05 Juni 2014
Kepada Hujan
Kepada hujan
Yang turun satu-satu, perlahan menderas di sekeliling payungku
Kutitipkan sebaris rindu
Kepada hujan
Yang mengenai ujung hidungku, membasahi rumput di bawah kakiku
Kuucapkan kalimat doa sore hari
Kepada hujan
Yang enggan pergi, bertahan disini di hati
Kutegakkan sebaris langkah kaki
Kepada hujan
Yang menemani awan gelap di sudut langit barat
Kubentuk serangkai harap bersama dengan gelap
Karena hujan
Yang seperti tangis semesta
Kulepaskan air mata yang samar ketika hujan
Kepada hujan
Yang menutup musim bunga, yang membuka sengat matahari
Kuserahkan perasaan hilang dan harap yang masih sama
Ketika hujan
Yang selalu berada di antara, hujan sesaat
Kubayangkan aku berjalan di bawah payung baru bergambar bintang, bersamanya
Kadang kala hujan
Yang bersama deru dan asap mobil di seberang jalan
Membawa kembali kepada kenangan baru, menutup rapat kenangan lama
Karena hujan
Di bulan Juni, yang selalu mengingatkan pada hati
Masih punya rasa
Kepada hujan
Tolong disampaikan
Lewat air mata, angin, juga awan gelap
(Tokyo, 5 Juni 2014, hari Kamis)
sore hari yang hujan di Tokyo
Yang turun satu-satu, perlahan menderas di sekeliling payungku
Kutitipkan sebaris rindu
Kepada hujan
Yang mengenai ujung hidungku, membasahi rumput di bawah kakiku
Kuucapkan kalimat doa sore hari
Kepada hujan
Yang enggan pergi, bertahan disini di hati
Kutegakkan sebaris langkah kaki
Kepada hujan
Yang menemani awan gelap di sudut langit barat
Kubentuk serangkai harap bersama dengan gelap
Karena hujan
Yang seperti tangis semesta
Kulepaskan air mata yang samar ketika hujan
Kepada hujan
Yang menutup musim bunga, yang membuka sengat matahari
Kuserahkan perasaan hilang dan harap yang masih sama
Ketika hujan
Yang selalu berada di antara, hujan sesaat
Kubayangkan aku berjalan di bawah payung baru bergambar bintang, bersamanya
Kadang kala hujan
Yang bersama deru dan asap mobil di seberang jalan
Membawa kembali kepada kenangan baru, menutup rapat kenangan lama
Karena hujan
Di bulan Juni, yang selalu mengingatkan pada hati
Masih punya rasa
Kepada hujan
Tolong disampaikan
Lewat air mata, angin, juga awan gelap
(Tokyo, 5 Juni 2014, hari Kamis)
sore hari yang hujan di Tokyo
Langganan:
Postingan (Atom)